Eco Mining DataTambang · Eco WatchMasukBuat akun gratis
Pulau · data publik

Sulawesi: izin tambang dan dampak lingkungan

Sulawesi punya 868 izin tambang aktif, terutama untuk nikel, batuan & pasir. Area tambang yang terpetakan seluas 10.316 ha. Pada 2025 hilang 92.646 ha tajuk pohon (semua penyebab); itu lebih banyak dari rata-rata lima tahun sebelumnya.

Sulawesi Utara: 19 izinSulawesi Tengah: 355 izinSulawesi Selatan: 163 izinSulawesi Tenggara: 277 izinGorontalo: 15 izinSulawesi Barat: 39 izinKepulauan TalaudKawasan industri Bahodopi (Morowali)Kawasan industri Morosi (Konawe)Kawasan smelter Pomalaa (Kolaka)Kawasan industri Bantaeng (Pajukukang)
Peta statis dengan batas yang disederhanakan. Warna: jumlah izin aktif per provinsi. Titik: kawasan industri. Garis putus-putus adalah subwilayah.
Izin aktif
868
IUP, IUPK, dan KK berstatus aktif
Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM ·
Area tambang terpetakan
10.316ha
lahan yang dibuka tambang, tanpa hitungan ganda
Sumber: Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022 ·
Hilangnya hutan
92.646ha
tahun terakhir, semua penyebab (2025)
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) ·
Sekolah dan layanan kesehatan di dekat tambang
718
dalam 5 km dari area tambang; hanya titik dalam data kami
Sumber: Kontributor OpenStreetMap (ODbL), Dapodik, dan Kemenkes bila dimuat ·

Apa yang berubah?

Hilangnya hutan: tahun terakhir dibanding sebelumnya

92.646 ha 2025

Itu 12,5 % lebih banyak dari rata-rata 2020–2024 (82.318 ha per tahun).

Ini hilangnya hutan dari semua penyebab: penebangan, pertanian, kebakaran, badai, dan tambang. Ini tidak berarti tambang penyebabnya.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026

Izin menurut status

  • Aktif868
  • Dalam persiapan (WIUP)1.330
  • Dihentikan sementara23
  • Kedaluwarsa21
  • Zona pertambangan rakyat (WPR), status tidak diketahui262

WIUP adalah wilayah yang disiapkan untuk izin, belum izin. WPR adalah zona pertambangan rakyat skala kecil. Hanya "aktif" yang dihitung sebagai izin dalam angka utama.

Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM · 21 Okt 2026

45 dari 81 kabupaten punya 3 izin aktif atau lebih.

Kawasan industri dan listrik

Di kawasan smelter ada PLTU batubara yang memasok listrik ke smelter. Tabel ini menunjukkan kapasitas unit-unit itu dan apa yang dilihat satelit di atas kawasan.

KawasanBeroperasiDibangun atau direncanakanDibatalkanNO₂ di atas kawasan (satelit)
Kawasan industri Bahodopi (Morowali)Kabupaten Morowali5.570 MW0 MW0 MW4,0 pada 2025 (pada 2018: 0,7); naik; kualitas D
Kawasan industri Morosi (Konawe)Kabupaten Konawe2.370 MW0 MW780 MW1,2 pada 2025 (pada 2018: 0,5); tidak ada tren jelas; kualitas C
Kawasan smelter Pomalaa (Kolaka)Kabupaten Kolaka60 MW0 MW0 MW0,1 pada 2025 (pada 2018: 0,4); turun; kualitas C
Kawasan industri Bantaeng (Pajukukang)Kabupaten Bantaeng0 MW0 MW600 MW0,0 pada 2025 (pada 2018: -0,1); tidak ada tren jelas; kualitas C

MW adalah kapasitas unit PLTU batubara di kawasan, bukan produksi smelter. NO₂ adalah kelebihan nitrogen dioksida di atas kawasan dibanding sekitarnya, dalam 10¹⁵ molekul per cm² (rata-rata tahunan). Sinyal satelit bukan bukti sumbernya.

Sumber: Global Energy Monitor, Global Integrated Power Tracker (rilis 2026-03-27), PLTU batubara (CC BY 4.0), 27 Mar 2026 · Copernicus Sentinel-5P TROPOMI NO2, 20 Okt 2026 · Posisi kawasan: kontributor OpenStreetMap (ODbL)

Komoditas utama

nikel

331 izin aktif

38,1 % dari semua izin aktif di sini.

Kabupaten dengan izin terbanyak

  1. Kabupaten Konawe Utara 79
  2. Kabupaten Morowali 69
  3. Kabupaten Morowali Utara 47
  4. Kabupaten Banggai 25
  5. Kabupaten Kolaka Utara 20

Kawasan industri: Kawasan industri Bahodopi (Morowali) (5.570 MW); Kawasan industri Morosi (Konawe) (2.370 MW); Kawasan smelter Pomalaa (Kolaka) (60 MW); Kawasan industri Bantaeng (Pajukukang) (0 MW).

Nikel di sini berasal dari laterit: batuan lapuk yang kaya besi dan nikel. Bijihnya diolah di smelter di kawasan industri. Izin memberi hak mencari atau menambang. Izin tidak menyebut berapa yang benar-benar ditambang.

Sumber: ESDM MODI (daftar izin); USGS Mineral Commodity Summaries, nikel

Dampak

Hilangnya hutan per tahun

207.641 ha
Hilangnya hutan per tahun
Tahunha
200166.731
200289.989
200352.378
2004129.738
200560.456
2006111.047
200752.865
200849.744
2009136.663
201049.051
201183.898
201296.956
201369.101
2014140.261
2015207.641
2016177.871
2017115.035
2018110.278
2019137.172
202075.067
202160.461
202269.983
2023133.830
202472.248
202592.646

Kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih. Diagram tidak menunjukkan penyebab.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13), tajuk pohon minimal 30 % · 22 Okt 2026

Area tambang terpetakan

10.316 ha

Lahan yang terlihat dibuka tambang di citra satelit. Ini tidak sama dengan tambang ilegal dan tidak berkaitan dengan izin.

Sumber: Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022, pengamatan 2018–2021

Tutupan hutan

84,3 %

Bagian lahan dengan tajuk pohon minimal 30 % pada tahun 2000.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026

Kawasan lindung

Belum dimuat

Tumpang tindih dengan kawasan lindung belum dimuat ke data untuk wilayah ini. Karena itu kami tidak menampilkan angka.

Sekolah dan layanan kesehatan di dekat tambang

718

547 dari 2.645 sekolah dan 171 dari 1.203 titik layanan kesehatan dalam data kami berada dalam 5 km dari area tambang. Daftar kami belum lengkap, jadi angka sebenarnya lebih tinggi.

Sumber: Kontributor OpenStreetMap (ODbL), Dapodik, dan Kemenkes bila dimuat · 23 Okt 2026

Nitrogen dioksida (NO₂) dari angkasa

Di atas kawasan industri, kolom NO₂ lebih tinggi dari sekitarnya. Angkanya ada di tabel kawasan industri.

Ini sinyal satelit (Sentinel-5P), bukan pengukuran kesehatan. NO₂ juga berasal dari lalu lintas dan kebakaran. Kualitas A terbaik, D terendah.

Provinsi di Sulawesi

Kabupaten dengan izin terbanyak di Sulawesi

Pilih kabupaten untuk angka lokal.

Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM · Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022 · 24 Okt 2026

Sejarah pertambangan di Sulawesi

Lini masa bersumber, sejauh sumber menjangkau. Setiap titik menyebut sumbernya dan seberapa pasti. Jika hanya dilaporkan atau diceritakan turun-temurun, batasannya dicantumkan.

Sebelum 1500

  1. sekitar 100 SM–500 M
    ArkeologiTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Logam pertama di Talaud

    Leang Tuwo Mane'e, Karakelang · tembaga

    Lapisan Zaman Logam Awal memuat lonceng kecil, lempeng, dan cincin dari tembaga atau perunggu. Lonceng itu mirip temuan budaya Sa-Huynh di Vietnam; menurut Bellwood, logam sudah dipakai di Talaud sekitar 2.000 tahun lalu.

    Batasan: Benda logam membuktikan perdagangan dan pemakaian, bukan penambangan bijih setempat.

    Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  2. sekitar 700–800 M
    ArkeologiTerdokumentasi

    Desa peleburan besi di dasar Danau Matano

    Pulau Ampat, Danau Matano, Luwu Timur · besi

    Penyelam menemukan sisa permukiman peleburan besi di dasar Danau Matano. Penanggalan radiokarbon menunjukkan bijih besi sudah dilebur di sini sejak abad ke-8. Ini penelitian arkeologi bawah air pertama tentang produksi besi di Asia.

    Batasan: Penanggalan berlaku untuk satu situs ini; skala produksinya belum diketahui.

    Sumber: Shinatria Adhityatama; R.R. Triwurjani; Suryatman; David Bulbeck et al. (2022) Pulau Ampat site: A submerged 8th century iron production village in Matano Lake, South Sulawesi, Indonesia. Archaeological Research in Asia · diakses 24 Okt 2026

  3. sekitar 700 M–1200
    ArkeologiTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Tembaga dicor di Salibabu

    Salibabu dan Karakelang · tembaga

    Di gua kubur Leang Buidane, 2 km barat laut Lirung, Bellwood menemukan 11 benda tembaga atau perunggu, kapak bertangkai dari tembaga, 4 cetakan tanah liat bakar, 3 potong besi, serta manik karnelian dan akik dari India. Satu cetakan bertanggal sekitar 960 tahun lalu. Gua kedua di Karakelang berisi temuan sejenis.

    Batasan: Bellwood: benda tembaga jelas dicor setempat, tetapi logamnya mungkin besi tua impor. Tidak ada tambang tembaga atau timah setempat yang diketahui.

    Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  4. sekitar 1000–1600
    ArkeologiTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Besi dan kambing di Kabaruan

    Leang Buida, pesisir barat Kabaruan · besi

    Di gua hunian Leang Buida, peneliti menemukan 14 potong besi di lapisan atas, dua pecahan keramik dagang, dan banyak sisa ikan serta kerang. Gigi dan tulang kambing dari lapisan sekitar 1000 M menunjukkan kambing sudah ada di Talaud saat itu.

    Batasan: Besi itu bukti pemakaian, bukan peleburan atau bijih besi setempat.

    Sumber: Rintaro Ono, Sriwigati and Joko Siswanto (2018) Development of marine and terrestrial resource use in the Talaud Islands AD 1000-1800, northern Sulawesi region · diakses 24 Okt 2026

  5. sekitar 1000–1700
    ArkeologiTerdokumentasi

    Peleburan besi berabad-abad di Nuha dan Matano

    Nuha dan Matano desa, Danau Matano, Luwu Timur · besi

    Proyek OXIS menggali lapisan sisa peleburan, tuyere dan arang di Matano dan Nuha pada 1998–1999. Lapisan terbawah di Nuha berasal dari abad ke-11–13, lapisan teratas dari abad ke-17 atau lebih muda. Artinya besi dilebur hampir sepanjang milenium kedua.

    Batasan: Penanggalan radiokarbon memiliki rentang ketidakpastian beberapa abad.

    Sumber: David Bulbeck; Ian Caldwell (2000) Land of Iron: The Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana Valley (OXIS project results) · diakses 24 Okt 2026

  6. sekitar 1300–1400
    Sebelum masa kolonialDilaporkan

    Pamor Luwu: besi untuk keris Jawa

    Danau Matano dan Luwu · besi

    Di Jawa, 'pamor Luwu' dikenal sebagai besi untuk pola pada bilah keris. Peneliti mengaitkannya dengan bijih Danau Matano yang mengandung 1–2 % nikel. Tim OXIS menyimpulkan industri besi Matano sudah ada paling lambat abad ke-14.

    Batasan: Peran nikel masih diperdebatkan: banyak keris yang dianalisis hanya mengandung sedikit atau tanpa nikel.

    Sumber: David Bulbeck; Ian Caldwell (2000) Land of Iron: The Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana Valley (OXIS project results) · diakses 24 Okt 2026

  7. 1365
    Sebelum masa kolonialTerdokumentasi

    Luwu disebut dalam syair Majapahit

    Luwu (Gulf dari Bone) · besi

    Syair Jawa Desawarnana (Nagarakertagama) tahun 1365 menyebut Luwu sebagai wilayah di bawah pengaruh Majapahit. Ini sebutan tertulis tertua tentang Luwu. Sejarawan melihat perdagangan besi sebagai salah satu alasan hubungan dengan Jawa.

    Batasan: Syair itu menyebut Luwu, bukan besinya; kaitan dengan perdagangan besi adalah tafsiran peneliti.

    Sumber: David Bulbeck; Ian Caldwell (2000) Land of Iron: The Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana Valley (OXIS project results) · diakses 24 Okt 2026

1500–1799: Portugis, Spanyol, dan VOC

  1. sekitar 1512–1535
    Sebelum masa kolonialTerdokumentasi

    Emas dari Sulawesi Utara ke Ternate

    Siau dan the utara Sulawesi coast · emas

    Tak lama setelah 1512, Tomé Pires dari Portugis mencatat pedagang dari Siau membawa emas ke Ternate. Orang Spanyol Urdaneta (1526–1535) menulis bahwa 'Celebes' mengirim emas ke Maluku setiap tahun. Ini catatan tertulis tertua tentang emas dari utara.

    Batasan: Sumber tidak menyebut lokasi penambangannya.

    Sumber: David Henley (1993) A Superabundance of Centers: Ternate and the Contest for North Sulawesi. Cakalele 4: 39-60 · diakses 24 Okt 2026

  2. 1667–1700
    VOCDilaporkan

    VOC campur tangan atas emas Gorontalo

    Gorontalo · emas

    Setelah Perjanjian Bongaya (18 November 1667) VOC memperluas kuasa atas wilayah bekas pengaruh Gowa. Gorontalo berada di bawah pengawasan gubernur VOC di Ternate. Sejak itu VOC ikut mengatur emas.

    Batasan: Kontrak emas VOC dengan Gorontalo dan Limboto belum dicek di arsip.

    Sumber: Hasanuddin Anwar; Retno Sekarningrum; Muhammad Nur Ichsan Azis; Irna Saptaningrum; Hendri Gunawan (2023) Commodities and the Dynamics of Commercial Shipping Activity at Gorontalo in 19th Century. ICLC 2022, ASSEHR 756: 7 · diakses 24 Okt 2026

  3. 1670–1700
    VOCTerdokumentasi

    Sumber VOC tentang besi Luwu

    Luwu dan Danau Matano · besi

    Pejabat VOC Speelman pada 1670 menjadi orang Eropa pertama yang mencatat ekspor besi dari Luwu. Pada abad yang sama Rumphius menulis bahwa besi Matano hampir setara baja. Hingga abad ke-20 perkakas besi Matano diperdagangkan ke Maluku.

    Sumber: David Bulbeck; Ian Caldwell (2000) Land of Iron: The Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana Valley (OXIS project results) · diakses 24 Okt 2026

  4. 1677–1681
    VOCTerdokumentasi

    Sulawesi Utara di bawah VOC

    Manado, Minahasa, Sangihe, Gorontalo · emas

    Antara 1677 dan 1681 Sangihe, Minahasa dan jazirah sejak Gorontalo ke timur jatuh ke tangan VOC. Kompeni lalu membeli langsung hasil seperti emas, kulit penyu dan lilin dari produsen lokal.

    Sumber: David Henley (1993) A Superabundance of Centers: Ternate and the Contest for North Sulawesi. Cakalele 4: 39-60 · diakses 24 Okt 2026

  5. 1686–1697
    Catatan perjalananDilaporkanDari Kepulauan Talaud

    Dampier: 'emas dan cengkeh' di Meangis

    Miangas ('Meangis') · emas

    William Dampier menulis bahwa pulau-pulau 'Meangis' kaya emas dan cengkeh. Ia mendengarnya dari seorang bangsawan bernama Jeoly, yang mengaku lahir di sana. Wichmann (1899) menunjukkan bahwa Meangis adalah Pulau Miangas.

    Batasan: Cerita tangan kedua. Wichmann menyebut informasi Jeoly keliru; tidak ada laporan kemudian yang membenarkan emas di Miangas.

    Sumber: A. Wichmann (1899) Die Insel Miangas · diakses 24 Okt 2026

1800–1941: masa kolonial

  1. 1885
    Catatan perjalananTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Beo: wabah dan 'zaman kayu'

    Beo, Karakelang · besi

    Di Beo Hickson mendengar bahwa dari hampir 9.000 orang di sekitarnya, 3.000 meninggal dalam beberapa bulan; raja juga wafat. Ia mengunjungi zendeling tua Richter. Hickson menulis orang Talaud hidup di 'zaman kayu': tombak dan perisai dari kayu, karena 'tidak ada besi dan tidak ada tembaga'.

    Batasan: Ini tentang budaya benda, bukan geologi; arkeologi justru menunjukkan pemakaian logam kuno. Sejarawan lokal menyebut Richter wafat 25 Mei 1885, bertentangan dengan Hickson.

    Sumber: Sydney J. Hickson (1889) A Naturalist in North Celebes: a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands · diakses 24 Okt 2026

  2. sekitar 1896–1940
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Lebih dari 13 ton emas dari Paleleh dan Totok

    Paleleh (Buol) dan Ratatotok (Minahasa Tenggara) · emas

    Tambang kolonial Paleleh dan Totok (Ratatotok) bersama-sama menghasilkan lebih dari 13 ton emas. Emas berasal dari urat kuarsa dan endapan eluvial.

    Batasan: Angka ini total; rincian per tambang dan per tahun tidak ada di sumber ini.

    Sumber: S.L. Garwin (1996) The settings and styles of gold mineralization in Southeast Asia. Geological Society of Malaysia, Annual Geological Conference '96 · diakses 24 Okt 2026

  3. 1898
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Sewa tanah di Kabaruan untuk mencari emas

    Kaboeroean (Kabaruan) · emas

    Komandan kapal Edi membuat kontrak dengan kerajaan Siau untuk sewa (erfpacht) 75 tahun atas sebagian Pulau Kaboeroean, 15 sen per bau per tahun. Ia ingin mendapatkan emas karena menduga ada emas dari 'batu-batu mengandung emas'. Sumatra-Courant mengulang berita ini pada 17 November 1898.

    Batasan: Tidak ada analisis, lokasi, kegiatan tambang, atau produksi yang diketahui; koran kedua mengulang berita yang sama.

    Sumber: De Locomotief (correspondent) (1898) Van Menado · diakses 24 Okt 2026

  4. 1898
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Orang Talaud di tambang emas Totok

    Kepulauan Talaud (asal para buruh) · emas

    Koloniaal Verslag 1899 mencatat bahwa perusahaan tambang Totok, pemegang konsesi emas di Minahasa, punya sekitar 225 pekerja, sebagian dari Kepulauan Talaud. Orang Talaud belum terbiasa kerja tambang. Di satu perusahaan eksplorasi, kuli dari Jawa dan Talaud melarikan diri.

    Batasan: Tambangnya di Minahasa, bukan di Talaud. Tidak menyatakan apa pun tentang bijih di Talaud.

    Sumber: Minister van Koloniën (1899) Koloniaal verslag van 1899, Bijlage C · diakses 24 Okt 2026

  5. 1898–1899
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Orang Talaud dicari sebagai buruh tambang

    Kepulauan Talaud (asal para buruh)

    Aturan Juli 1898 mengizinkan penduduk Kepulauan Sangi dan Talaud direkrut sebagai buruh kontrak untuk pertanian atau pertambangan di Keresidenan Menado. Pada 1899 sebuah perusahaan tambang emas di Kwandang–Sumalata menulis bahwa mereka berusaha mendatangkan kuli dari Kepulauan Sangi dan Talaud.

    Batasan: Tambangnya di daratan (Gorontalo), bukan di Talaud; jumlah buruh asal Talaud tidak diketahui.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1898) Nederlandsch-Indië, Batavia 13 Juli 1898 · diakses 24 Okt 2026

  6. 1899
    Catatan perjalananTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Ekspedisi Siboga: 'demam konsesi' sampai ke Kabaruan

    Lirung (Salibabu); Kaboeroean (Kabaruan)

    Kapal Siboga berlabuh di Beo dan Lirung pada 23-27 Juli 1899. Pada 27 Juli puncak tertinggi Salibabu didaki untuk penelitian geologi. Surat kabar menulis bahwa demam permohonan konsesi 'sudah' sampai ke Kaboeroean.

    Batasan: Tidak menyebut nama, mineral, atau lahan. Hasil geologi Salibabu tidak ditemukan dalam Weber (1902).

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1899) De Siboga-expeditie. Molukken, Augustus · diakses 24 Okt 2026

  7. 1899–1902
    KebijakanTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Kontrak baru: hak pertambangan ke Gubernemen

    Kepulauan Talaud (melalui raja-raja Sangihe)

    Pada November 1899 lima kerajaan Sangihe mendapat kontrak politik baru. Hak memberi izin penyelidikan dan konsesi tambang beralih dari raja ke Gubernemen. Talaud saat itu hanya terdiri atas wilayah bawahan kerajaan-kerajaan ini; misalnya dua desa di Karakelang milik Tagoelandang.

    Batasan: Ini aturan hukum, bukan temuan. Bahwa sewa 1898 di Kaboeroean gugur karenanya adalah dugaan.

    Sumber: Tweede Kamer (1902) Overeenkomsten met Inlandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel (Nota van Toelichting) · diakses 24 Okt 2026

  8. 1902
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Permohonan tambang di Karakelang ditolak

    Karakelang

    Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan permohonan S.W.B. Hijde dan G. de Kruijff van Dorssen untuk penyelidikan tambang di Pulau Karakelang ditolak. Ini permohonan tambang pertama yang ditemukan dengan menyebut Karakelang.

    Batasan: Berita tidak menyebut jenis mineral atau alasan penolakan.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1902) Nederlandsch-Indië, Batavia 16 Augustus 1902 (Mijnbouw) · diakses 24 Okt 2026

  9. 1902
    KebijakanTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Wilayah Sangi dibuka untuk pertambangan

    Kabaruan, Nanusa dan Miangas (melalui raja-raja Sangihe)

    Javasche Courant 4 April 1902 mengumumkan pemerintah tidak keberatan atas penyelidikan tambang swasta di Siauw, Kandhar-Taroena, Nanganitoe, Taboekan, dan Tagoelandang (Kepulauan Sangi dan Talaud). Kerajaan-kerajaan ini punya wilayah di Talaud: Siau di Kabaruan, Kandhar-Taruna di Nanusa dan Miangas.

    Batasan: Berita tidak menyebut pulau Talaud; jangan dipakai sebagai bukti Talaud dibuka atau ditambang.

    Sumber: Het Vaderland (citing Javasche Courant 4-4-1902) (1902) Mijnbouw · diakses 24 Okt 2026

  10. 1903
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Izin penyelidikan untuk tiga lahan di Karakelang

    Karakelang (afdeeling Sangi- en Talauer-eilanden)

    Permohonan J. Bosman untuk penyelidikan tambang di tiga lahan di Pulau Karakelang dikabulkan. Ini izin penyelidikan pertama yang ditemukan diberikan di Talaud.

    Batasan: Jenis mineral, lokasi, dan hasil tidak diketahui; lihat Jaarboek van het Mijnwezen dan Javasche Courant 1903.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1903) Nederlandsch-Indië, Batavia 31 Maart 1903 · diakses 24 Okt 2026

  11. 1909–1910
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Ekspedisi geologi melintasi Sulawesi Tengah

    Central dan Southeast Sulawesi

    Pada 1909–1910 insinyur tambang E.C. Abendanon menjelajahi Sulawesi Tengah. Laporannya dalam empat jilid (1915–1918) memuat peta geologi pertama untuk sebagian besar pedalaman.

    Batasan: Sumber kemudian menyebut ia menemukan bijih nikel di Pomalaa pada 1909; hal itu belum diperiksa di karya aslinya.

    Sumber: E.C. Abendanon (1915) Midden-Celebes-Expeditie: geologische en geographische doorkruisingen van Midden-Celebes (1909-1910), 4 vols + atlas, Leiden: E.J. Brill · diakses 24 Okt 2026

  12. 1912
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    'Tidak ada mineral penting yang diketahui'

    Kepulauan Talaud

    Sebuah artikel tinjauan menulis geologi Kepulauan Sangi dan Talaud masih sedikit diketahui; selain belerang dan sejenis tanah liat pipa (dipakai sebagai kapur putih) tidak ada mineral penting yang diketahui. Talaud berpenduduk 18.992 jiwa; beberapa orang Eropa punya izin menjual kayu di Talaud.

    Batasan: Pernyataan mineral berlaku untuk kedua gugus; belerang berasal dari gunung api di Sangihe.

    Sumber: Tijdschrift voor economische geographie (anonymous) (1912) De Sangi- en Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026

  13. 1914–1920
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    BPM minta izin penyelidikan di Karakelang

    Karakelang

    Residen Manado mengumumkan pada 20 Desember 1920 bahwa Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) pada 17 Januari 1914 memohon izin penyelidikan tambang di Karakelang. Sebuah koran memakainya sebagai contoh birokrasi yang lamban.

    Batasan: BPM perusahaan minyak, tetapi berita tidak menyebut jenis mineral; hasil permohonan tidak diketahui.

    Sumber: Deli Courant (1921) Grapjes en snapjes · diakses 24 Okt 2026

  14. 1921–1928
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Roothaan: peta geologi pertama Talaud

    Talaud dan Nanusa pulau-pulau

    Ahli geologi BPM H.Ph. Roothaan melakukan survei lapangan pada 1921 dan menerbitkan 'Geologische en petrografische schets der Talaud- en Nanoesa-eilanden' dengan peta 1:200.000 di Jaarboek van het Mijnwezen. Ia menggambarkan inti terutama gabro dan peridotit, ditutupi lapisan tipis rijang radiolaria, breksi, batupasir, dan napal.

    Batasan: Isi diketahui dari ringkasan Van Gorsel; naskah asli (Verhandelingen II, hlm. 174-220) belum diperiksa.

    Sumber: J.T. van Gorsel Bibliography of the Geology of Indonesia and Surrounding Areas, VI. North Moluccas (entry Roothaan 1928) · diakses 24 Okt 2026

  15. 1924–1941
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Aspal Buton ditemukan dan ditambang

    Kabungka dan Lawele, Buton

    Geolog Belanda W.H. Hetzel mencatat aspal alam di Buton pada 1924. Sejak 1925 Boeton Maatschappij menambangnya hingga pendudukan Jepang 1942. Aspal ini sudah dipakai untuk jalan pada 1926.

    Sumber: Awang H. Satyana; Ngakan A. Ascaria; Alfathony Krisnabudhi; Ragil D. Prasetyo (2023) Prospectivities of Buton area, Southeast Sulawesi: new insights from revisiting integrated geological-geophysical-geochemical data. IPA · diakses 24 Okt 2026

  16. 1925–1939
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Batuan Talaud digolongkan secara kimia

    Kepulauan Talaud

    Tinjauan dalam Geologie & Mijnbouw (1939) menyebut Roothaan meneliti batuan Talaud. Menurutnya batuan itu termasuk deret 'pasifik' dengan sedikit pengaruh 'mediteran'.

    Batasan: Penggolongan petrologi, bukan temuan bijih. Naskah Roothaan sendiri belum dilihat.

    Sumber: Geologisch-Mijnbouwkundig Genootschap (1939) Geologie & Mijnbouw 1 (1939) nr. 3 · diakses 24 Okt 2026

  17. 1926
    Catatan perjalananTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Lam: gunung serpentin dan tanah miskin

    Karakelang, Salibabu, Nanusa

    Ahli botani H.J. Lam meneliti flora Karakelang, Salibabu, dan Kepulauan Nanusa. Ia menulis sebuah gunung di Karakelang terdiri dari serpentin sehingga floranya sangat berbeda; di tempat lain batuan dalam hanya muncul di dasar sungai. Tanahnya miskin: kopra hampir satu-satunya ekspor, belalang merusak banyak tanaman, dan Talaud berpenduduk sekitar 20.000 jiwa.

    Batasan: Laporan botani; tidak meneliti bijih.

    Sumber: H.J. Lam (in Bataviaasch Nieuwsblad) (1926) Vegetatie der Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026

  18. 1934–1941
    Pemerintahan kolonialDilaporkan

    Tambang nikel pertama di Pomalaa

    Pomalaa, Kolaka · nikel

    Pada 1934 Oost-Borneo Maatschappij mulai eksplorasi nikel di Pomalaa. Penambangan dimulai pada 1938. Bijihnya diekspor ke Jepang hingga 1942.

    Batasan: Sumber lain menyebut anak perusahaan (Boni Tolo) dan memberi tahun serta tonase berbeda.

    Sumber: Wood Mackenzie (2024) Pomalaa nickel operation (report summary) · diakses 24 Okt 2026

1942–1998: perang, kemerdekaan, dan Orde Baru

  1. 1942–1945
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Pendudukan Jepang: nikel untuk perang

    Pomalaa, Kolaka · nikel

    Pada 1942 Sumitomo mengambil alih tambang Pomalaa dan membangun smelter di dekatnya. Tawanan perang dari Makassar dipaksa bekerja di tambang nikel pada Januari–September 1943. Smelter itu hancur dalam perang.

    Sumber: Stichting Indische Kamparchieven (2024) Celebes - bezetting en bersiap (per regio) · diakses 24 Okt 2026

  2. 1967
    KebijakanTerdokumentasi

    UU Pertambangan 1967 dan Kontrak Karya

    Indonesia (national)

    Pada 2 Desember 1967 terbit UU No. 11/1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. UU ini memungkinkan Kontrak Karya dengan perusahaan asing. Kemudian PT Inco di Sorowako dan banyak kontrak emas di Sulawesi Utara memakai dasar ini.

    Sumber: JDIH BPK RI (1967) UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan · diakses 24 Okt 2026

  3. 1968
    KemerdekaanTerdokumentasi

    Kontrak Karya PT Inco

    Sorowako, Luwu Timur · nikel

    Pada Juli 1968 PT International Nickel Indonesia (PT Inco) didirikan. Perusahaan menandatangani Kontrak Karya dengan pemerintah selama 30 tahun sejak produksi komersial. Ini salah satu kontrak tambang asing besar pertama setelah UU Pertambangan 1967.

    Sumber: PT Vale Indonesia (2024) Our history in Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  4. 1976–1995
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Pemetaan geologi modern

    Karakelang, Salibabu, Kabaruan, Nanusa

    Ahli geologi Indonesia dan Amerika (Sukamto, Suwarna, Moore, dan lain-lain) menggambarkan Talaud sebagai busur luar non-vulkanik dengan melange dan ofiolit (serpentinit, gabro, basal, rijang). Blok Talaud terangkat lebih dari 2.000 m sejak Pliosen. Peta Geologi Lembar Talaud 1:250.000 terbit 1986 dan 1995.

    Batasan: Konteks geologi, bukan temuan bijih.

    Sumber: G.F. Moore, D. Kadarisman, C.A. Evans & J.W. Hawkins (1981) Geology of the Talaud Islands, Molucca Sea collision zone, northeast Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  5. 1977–1978
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Smelter Sorowako mulai beroperasi

    Sorowako, Luwu Timur · nikel

    PT Inco membangun smelter penghasil nikel matte dari bijih laterit pada 1974–1978. Presiden Soeharto meresmikan pabrik pada 1977. Produksi komersial dimulai pada 1978.

    Batasan: Sumber menyebut 1977 atau 1978 sebagai tahun mulai.

    Sumber: Guiry; Dalvi (1987) P.T. INCO's Indonesian nickel project: An updating · diakses 24 Okt 2026

  6. 1997–2013
    Penelitian dan perusahaan modernDilaporkanDari Kepulauan Talaud

    Kontrak Karya emas di Karakelang utara

    Karakelang (bagian utara) · emas

    Tabel kabupaten tahun 2012 mencantumkan Kontrak Karya emas PT Tambang Mas Sangihe seluas 40.080 ha di 'Karakelang bagian utara', tahap eksplorasi, 1997–2013. Kontrak 1997 berlaku untuk Kabupaten Sangihe Talaud saat itu; wilayah sekarang hanya di Sangihe.

    Batasan: Sumber sekunder (laporan mahasiswa); batas dan data eksplorasi belum dilihat.

    Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi dan persebaran mineral non logam dan logam Kabupaten Talaud (table Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Kab. Kepulauan Talaud 2012) · diakses 24 Okt 2026

Sejak 1999: desentralisasi hingga kini

  1. 2008–2016
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Penelitian ilmiah pasir besi

    West Karakelang · pasir besi

    Penelitian LIPI dan Puslitbang Geologi Kelautan menemukan magnetit, rutil, zirkon, dan olivin di pasir pantai, serta endapan pantai kaya magnetit di pesisir barat Karakelang. Sungai menyumbang sebagian; pengangkatan memindahkan pasir ke beting dangkal.

    Batasan: Di satu pantai sumbangan sungai sangat kecil; tidak ada sumber daya ekonomis yang ditetapkan.

    Sumber: M.A. Mustafa, D. Setiady & U. Kamiludin (2016) Keterdapatan pasirbesi di Pantai Beo dan sekitarnya · diakses 24 Okt 2026

  2. 2009
    KebijakanTerdokumentasi

    UU Minerba 2009

    Indonesia (national)

    Pada 12 Januari 2009 UU No. 4/2009 menggantikan UU 1967. UU ini mewajibkan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Ini menjadi dasar larangan ekspor bijih mentah.

    Sumber: JDIH BPK RI (2009) UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara · diakses 24 Okt 2026

  3. 2010–2011
    Penelitian dan perusahaan modernDilaporkanDari Kepulauan Talaud

    Izin pasir besi dan mangan

    Melonguane wilayah dan Karakelang · pasir besi

    Tabel kabupaten yang sama mencantumkan sekitar 2010 IUP pasir besi 1.792 ha dekat Melonguane dan blok mangan 3.750 ha di Karakelang. Pada November 2011 ANTARA, mengutip pejabat provinsi, memberitakan 'potensi' sekitar 715.250 ton pasir besi di Talaud.

    Batasan: Tanpa koordinat, kadar, atau klasifikasi sumber daya; tidak diketahui apakah pernah ditambang.

    Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi bahan galian pasir besi Kab. Talaud · diakses 24 Okt 2026

  4. 2012
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Inventarisasi mineral pemerintah (PSDG)

    Karakelang, Kabaruan, Salibabu · emas

    Pusat Sumber Daya Geologi menemukan emas 25–49 ppb dalam 44 sedimen sungai, sinabar di 21 dari 43 konsentrat dulang, dan bongkah mangan 27,60–61,64 % Mn di Karakelang. Batuan di bekas lubang emas rakyat di Salibabu dan Kabaruan hanya 1–6 ppb emas, yang disebut PSDG 'tidak ekonomis'.

    Batasan: Sumber tidak konsisten soal pulau lubang tua (Salibabu atau Kabaruan); anomali tidak membentuk zona menyatu.

    Sumber: R.M. Faisal & I. Muksin (2012) Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara · diakses 24 Okt 2026

  5. 2014–2020
    KebijakanTerdokumentasi

    Larangan ekspor bijih nikel

    Indonesia (national)

    Pada Januari 2014 Indonesia melarang ekspor bijih nikel mentah. Pada 2017–2019 bijih kadar rendah boleh diekspor dengan syarat. Sejak 1 Januari 2020 larangan penuh berlaku lagi; panel WTO pada 2022 menilai larangan itu melanggar aturan dagang.

    Batasan: Indonesia mengajukan banding; putusan belum berlaku.

    Sumber: World Trade Organization (2022) Indonesia - Measures Relating to Raw Materials (DS592), Report of the Panel · diakses 24 Okt 2026

  6. 2015
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Presiden resmikan smelter pertama IMIP

    Bahodopi, Morowali · nikel

    Pada 29 Mei 2015 Presiden Joko Widodo meresmikan smelter nikel pertama di IMIP. Sejak 2016 kawasan ini menjadi Proyek Strategis Nasional. Kawasan ini tumbuh menjadi salah satu kompleks nikel dan baja tahan karat terbesar di dunia.

    Sumber: PT IMIP (2024) FAQ - PT Indonesia Morowali Industrial Park · diakses 24 Okt 2026

  7. 2017
    KebijakanTerdokumentasi

    Indonesia meratifikasi Konvensi Minamata

    Indonesia (national) · merkuri

    Melalui UU No. 11/2017 Indonesia mengesahkan Konvensi Minamata tentang merkuri. Konvensi ini meminta negara mengurangi merkuri di tambang emas skala kecil. Hal ini menyentuh banyak daerah emas di Sulawesi.

    Sumber: JDIH BPK RI (2017) UU No. 11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury · diakses 24 Okt 2026

  8. 2024
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasiDari Kepulauan Talaud

    Satu-satunya wilayah tambang: kuari 1,5 ha

    Beo Selatan kecamatan, Karakelang

    Register ESDM mencatat WIUP 1,5 ha untuk 'batu gunung quarry besar' di kecamatan Beo Selatan, berstatus 'pencadangan' sejak 19 Agustus 2024. Menurut tinjauan ESMI 2026, ini satu-satunya wilayah tambang di Talaud; tidak ada WPR emas dan izin logam.

    Batasan: Pencadangan, bukan bukti kegiatan tambang aktif.

    Sumber: ESMI Mining Intelligence (2026) Talaud integrated mineral and environment intelligence, §12.2 (ESDM WIUP record) · diakses 24 Okt 2026

Sumber dan metode

Setiap angka di halaman ini punya sumber dan tanggal. Di bawah ini semua sumber beserta lisensinya.

ApaSumberTanggalLisensi
IzinESDM MODI / Geoportal ESDM21 Okt 2026Data pemerintah terbuka
Area tambangCheng et al. 2026 + Maus et al. 20222018–2021CC BY 4.0
Hilangnya hutan dan tutupan hutanHansen/UMD Global Forest Change (v1.13)22 Okt 2026CC BY 4.0
Pembangkit di kawasanGlobal Energy Monitor, Global Integrated Power Tracker (rilis 2026-03-27), PLTU batubara27 Mar 2026CC BY 4.0
Nitrogen dioksidaCopernicus Sentinel-5P TROPOMI NO220 Okt 2026Copernicus, penggunaan bebas
Sekolah dan layanan kesehatanKontributor OpenStreetMap (ODbL), Dapodik, dan Kemenkes bila dimuat23 Okt 2026ODbL
Batas wilayahBPS / OCHA COD-AB 20202020CC BY 3.0 IGO
SejarahSetiap peristiwa dalam lini masa menyebut sumbernya sendiri, dengan tautan dan tanggal kami mengaksesnya.

Cara kami membaca dan memakai angka

  • Sinyal bukan bukti: citra satelit, pengukuran, atau berita menunjuk arah, bukan membuktikan.
  • Area tambang terpetakan bukan ilegalitas. Ini tidak menyatakan ada atau tidaknya izin.
  • Hilangnya hutan adalah kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih.
  • Yang tidak kami miliki, kami sebut "belum dimuat". Kami tidak menampilkan nol.
  • Batas disederhanakan dan bukan hasil survei. Angka diperbarui saat sumber diperbarui.

Semua pulauPeta izin tambang per provinsi