Eco Mining DataTambang · Eco WatchMasukBuat akun gratis
Gugus pulau · data publik

Kepulauan Talaud: izin tambang dan dampak lingkungan

Tidak ada izin tambang aktif. Daftar resmi menunjukkan 1 wilayah dalam persiapan (tambang batu seluas 1,5 ha). Sekitar 95,2 % lahannya berupa hutan. Pada 2025 hilang 103 ha tajuk pohon, dari semua penyebab.

Kepulauan Talaud
Peta statis dengan batas yang disederhanakan. Hanya garis luar pulau, tanpa citra satelit.
Izin aktif
0
IUP, IUPK, dan KK berstatus aktif
Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM ·
Area tambang terpetakan
0ha
lahan yang dibuka tambang, tanpa hitungan ganda
Sumber: Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022 ·
Hilangnya hutan
103ha
tahun terakhir, semua penyebab (2025)
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) ·
Tutupan hutan
95,2%
dari lahan, tajuk pohon minimal 30 % (tahun 2000)
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) ·

Apa yang berubah?

Hilangnya hutan: tahun terakhir dibanding sebelumnya

103 ha 2025

Itu 33,9 % lebih sedikit dari rata-rata 2020–2024 (156 ha per tahun).

Ini hilangnya hutan dari semua penyebab: penebangan, pertanian, kebakaran, badai, dan tambang. Ini tidak berarti tambang penyebabnya.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026

Izin menurut status

  • Dalam persiapan (WIUP)1

WIUP adalah wilayah yang disiapkan untuk izin, belum izin. WPR adalah zona pertambangan rakyat skala kecil. Hanya "aktif" yang dihitung sebagai izin dalam angka utama.

Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM · 21 Okt 2026

Pulau-pulau sekilas

Talaud terdiri dari 10 pulau di utara Sulawesi Utara. Ibu kota kabupaten adalah Melonguane. Tiga pulau besar: Karakelang, Salibabu, dan Kabaruan. Miangas juga bagian dari kabupaten, tetapi di sini hanya sebagai konteks.

PulauLuas daratan (km²)Hutan tahun 2000 (% dari pulau)Pengetahuan
Karakelang80197 %Ada data
Kabaruan9395,3 %Ada data
Salibabu8692,7 %Ada data
Marampit1591 %Belum diteliti
Karatung7,679,9 %Belum diteliti
Mangupun2,188,9 %Belum diteliti
Mallo1,673,3 %Belum diteliti
Garat1,490,9 %Belum diteliti
Kakorotan0,677,3 %Belum diteliti
Intata0,378,3 %Belum diteliti

Jumlah penduduk per pulau (BPS) belum dimuat. Karena itu kami tidak menampilkan angka.

Sumber: kajian meja ESMI dengan batas pulau dan Hansen/UMD Global Forest Change; per 17 Jul 2026.

Alam lebih dulu

Di pulau-pulau besar hampir semuanya hutan. Karena itu di sini kami mengukur dulu, baru melihat soal tambang.

Tutupan hutan dan hilangnya hutan per pulau

PulauHutan 2000Hilang 2001–2024% dari hutan 2000
Karakelang97 %50,5 km²6,5 %
Kabaruan95,3 %4,8 km²5,4 %
Salibabu92,7 %2,4 km²3 %
Marampit91 %1,3 km²9,7 %
Karatung79,9 %0,09 km²1,5 %
Mangupun88,9 %0,07 km²4 %
Mallo73,3 %0,07 km²6,1 %
Garat90,9 %0,00 km²0,1 %
Kakorotan77,3 %0,00 km²0 %
Intata78,3 %0,00 km²0 %

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change v1.12 (2001–2024), hutan tahun 2000 dengan tajuk minimal 30 %, dipotong pada batas pulau; per 17 Jul 2026.

Kehilangan adalah kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab (tebang, pertanian, badai, kebakaran). Ini tidak membuktikan tambang sebagai penyebab dan bukan perubahan hutan bersih. Tanpa kehilangan tidak berarti tidak ada perubahan.

Kawasan lindung

Kawasan lindung "Karakelang Wildlife Reserve" (kategori IUCN IV) tumpang tindih sekitar 287 km² dengan Karakelang, yaitu 35,9 % dari pulau. Di dalamnya hilang 16,4 km² tajuk pohon antara 2001 dan 2024, 5,7 % dari hutan tahun 2000. Ini juga dari semua penyebab. Dilindungi tidak berarti semua hutan utuh.

Sumber: Protected Planet (WDPA) x Hansen v1.12; per 17 Jul 2026.

Sedikitnya 13 spesies hewan terancam

Dari pengamatan hewan (GBIF) ada 9 spesies yang kini berstatus terancam di Daftar Merah IUCN. Penelitian lapangan di Talaud menambah 4. Totalnya sedikitnya 13 spesies. Ini batas bawah, bukan penghitungan lengkap.

SpesiesStatus (IUCN)Dasar data
Kuskus beruang Talaud Ailurops melanotisCR kritisPenelitian lapangan
Kalong Talaud Acerodon humilisEN terancam punahPenelitian lapangan
Melomys Talaud ekor pendek Melomys caurinusEN terancam punahPenelitian lapangan
Melomys Talaud ekor panjang Melomys talaudiumEN terancam punahPenelitian lapangan
Mandar Talaud Gymnocrex talaudensisEN terancam punahPengamatan (GBIF)
Sampiri (nuri) Eos histrioEN terancam punahPengamatan (GBIF)
Burung mandar (Amaurornis magnirostris)VU rentanPengamatan (GBIF)
Biawak (Varanus lirungensis)EN terancam punahPengamatan (GBIF)
Kupu-kupu sayap burung (Troides dohertyi)VU rentanPengamatan (GBIF)
Kedidi besar (burung migran) Calidris tenuirostrisEN terancam punahPengamatan (GBIF)
Kedidi ekor tajam (burung migran) Calidris acuminataVU rentanPengamatan (GBIF)
Cerek besar (burung migran) Pluvialis squatarolaVU rentanPengamatan (GBIF)
Capung jarum (famili Chlorocyphidae)EN terancam punahPengamatan (GBIF)

Sumber: pengamatan hewan GBIF dan Daftar Merah IUCN melalui GBIF; Riley (2002, 2003); Repi dkk. (2020); per 17 Jul 2026.

Yang tidak dikatakan angka ini
  • GBIF menunjukkan di mana orang mengamati, bukan di mana hewan berada. 4.904 pengamatan memberi 262 spesies; pulau-pulau kecil nyaris tidak diamati. Tanpa pengamatan berarti "tidak diketahui", bukan "tidak ada".
  • Jumlah hewan dari penelitian lama (1999, 2016) bersifat historis. Kami tidak memakainya sebagai jumlah saat ini.
  • Daftar spesies bukan inventaris lengkap hewan di Talaud.

Dampak

Hilangnya hutan per tahun

937 ha
Hilangnya hutan per tahun
Tahunha
2001339
2002937
2003320
2004303
2005358
200643
2007361
20086
200919
201085
2011431
201241
201329
2014221
2015222
2016678
2017177
2018204
2019284
2020214
2021137
2022156
2023128
2024144
2025103

Kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih. Diagram tidak menunjukkan penyebab.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13), tajuk pohon minimal 30 % · 22 Okt 2026

Area tambang terpetakan

0 ha

Pada peta yang digunakan, tidak ada area tambang di sini.

Sumber: Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022, pengamatan 2018–2021

Tutupan hutan

95,2 %

Bagian lahan dengan tajuk pohon minimal 30 % pada tahun 2000.

Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026

Kawasan lindung

35,9 %

Bagian Karakelang yang masuk kawasan lindung "Karakelang Wildlife Reserve". Kawasan lindung tidak berarti semua hutan utuh.

Sumber: Protected Planet (WDPA) x Hansen v1.12 · 17 Jul 2026

Sekolah dan layanan kesehatan di dekat tambang

Belum dimuat

Sekolah dan layanan kesehatan untuk wilayah ini belum dimuat. Karena itu kami tidak menampilkan angka.

Nitrogen dioksida (NO₂) dari angkasa

Di atas kabupaten ini rata-rata kolom NO₂ pada Sep 2026 adalah 0,3 (10¹⁵ molekul per cm²). Selisih dengan sekitarnya: 0,0; tidak ada tanda peningkatan lokal. Kualitas D.

Ini sinyal satelit (Sentinel-5P), bukan pengukuran kesehatan. NO₂ juga berasal dari lalu lintas dan kebakaran. Kualitas A terbaik, D terendah.

Geologi singkat

Talaud adalah punggungan batuan terangkat tanpa gunung api aktif, di zona tumbukan Laut Maluku.

  • Melange: campuran blok peridotit, serpentinit, gabro, basal, sekis, dan marmer dalam lempung.
  • Batuan ultramafik di Kabaruan: peridotit, serpentinit, gabro, dan basal.
  • Batuan gunung api Pampini: breksi, tuf, lava, dan diorit.
  • Batu gamping koral dan endapan muda di pesisir.

Peta geologi resmi Talaud berskala 1:250.000.

Pada peta resmi tidak ada simbol bijih logam dan tidak ada bagian khusus tentang sumber daya mineral. Peta membantu menentukan di mana bisa melihat, tetapi tidak melaporkan bijih.

Sumber: Peta Geologi Lembar Talaud, Sulawesi, Sukamto & Suwarna, 1986 (reprint 1995), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Badan Geologi).

Temuan survei resmi (PSDG 2012)

Tidak ada endapan emas yang terbukti dan tidak ada sumber daya di Talaud. Kadar dalam ppb jauh lebih rendah dari yang berarti bagi tambang: emas dihitung dalam gram per ton (1 gram per ton sama dengan 1.000 ppb).

Pada 2012 badan geologi pemerintah (PSDG) melakukan inventarisasi mineral di Talaud. Ini temuannya:

  • Bongkah mangan dengan 27,6 sampai 61,6 % mangan, di Karakelang.
  • Dalam 44 contoh pasir sungai, emas berkisar 25 sampai 49 ppb (blok Karakelang dan Kabaruan bersama). Itu kurang dari 0,05 gram per ton.
  • Sebagai perbandingan: tambang emas menghitung dalam gram per ton; 1 gram per ton sama dengan 1.000 ppb.
  • Sinabar, bijih merkuri, ada di 21 dari 43 konsentrat dulang (mineral berat dari pasir sungai). Survei membacanya sebagai tanda kemungkinan sistem air panas. Itu tafsiran, bukan endapan yang terbukti.
  • Batuan di dekat sumur galian tangan lama di Salibabu dan Kabaruan menunjukkan 1 sampai 6 ppb emas. Sumber menyebut ini tidak ekonomis.
  • Satu contoh batuan di blok Kabaruan mengandung 2.303 ppm tembaga dan 8.736 ppm seng. Satu contoh bukan zona.

Para peneliti mendapati hampir semua batuan masih segar, tanpa alterasi atau mineralisasi. Anomali tidak mengumpul. Karena itu mereka tidak dapat memastikan adanya zona anomali.

ESMI tidak menampilkan peta anomali dan lokasi contoh dari laporan itu.

Sumber: Faisal, R.M. & Muksin, I. (2012), Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud, Prosiding Hasil Kegiatan Pusat Sumber Daya Geologi 2012, Buku 2, p. 163-173, Badan Geologi (ESDM)

Susunan wilayah

Sejarah pertambangan di Kepulauan Talaud

Lini masa bersumber, sejauh sumber menjangkau. Setiap titik menyebut sumbernya dan seberapa pasti. Jika hanya dilaporkan atau diceritakan turun-temurun, batasannya dicantumkan.

67 dari 67

Sebelum 1500

  1. sekitar 33.000–6.000 SM
    ArkeologiTerdokumentasi

    Hunian tertua: Leang Sarru

    Leang Sarru, Salibabu

    Di ceruk Leang Sarru, Pulau Salibabu, para arkeolog menemukan ribuan alat batu rijang dan sisa kerang. Pertanggalan menunjukkan manusia sudah datang sekitar 35.000 tahun lalu setelah menyeberangi laut lebih dari 100 km.

    Batasan: Hunian kemungkinan tidak terus-menerus; ada jeda. Tidak ada logam.

    Sumber: Rintaro Ono, Santoso Soegondho and Minoru Yoneda (2009) Changing marine exploitation during Late Pleistocene in northern Wallacea: shell remains from Leang Sarru rockshelter in Talaud Islands · diakses 24 Okt 2026

  2. sekitar 4.000 SM–1700
    ArkeologiTerdokumentasi

    Leang Tuwo Mane'e: dipakai ribuan tahun

    Leang Tuwo Mane'e, Arangka'a, Karakelang

    Ceruk dekat Arangka'a pertama kali dipakai sekitar 4000 SM; gerabah muncul sekitar 2500 SM. Bellwood mencatat lantainya kini 6,5–7 m di atas laut dan menyimpulkan pantai terangkat sekitar 7 m dalam 6.000 tahun.

    Batasan: Pengangkatan pantai adalah tafsiran Bellwood dari satu situs.

    Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  3. sekitar 100 SM–500 M
    ArkeologiTerdokumentasi

    Logam pertama di Talaud

    Leang Tuwo Mane'e, Karakelang · tembaga

    Lapisan Zaman Logam Awal memuat lonceng kecil, lempeng, dan cincin dari tembaga atau perunggu. Lonceng itu mirip temuan budaya Sa-Huynh di Vietnam; menurut Bellwood, logam sudah dipakai di Talaud sekitar 2.000 tahun lalu.

    Batasan: Benda logam membuktikan perdagangan dan pemakaian, bukan penambangan bijih setempat.

    Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  4. sekitar 700 M–1200
    ArkeologiTerdokumentasi

    Tembaga dicor di Salibabu

    Salibabu dan Karakelang · tembaga

    Di gua kubur Leang Buidane, 2 km barat laut Lirung, Bellwood menemukan 11 benda tembaga atau perunggu, kapak bertangkai dari tembaga, 4 cetakan tanah liat bakar, 3 potong besi, serta manik karnelian dan akik dari India. Satu cetakan bertanggal sekitar 960 tahun lalu. Gua kedua di Karakelang berisi temuan sejenis.

    Batasan: Bellwood: benda tembaga jelas dicor setempat, tetapi logamnya mungkin besi tua impor. Tidak ada tambang tembaga atau timah setempat yang diketahui.

    Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  5. sekitar 1000–1600
    ArkeologiTerdokumentasi

    Besi dan kambing di Kabaruan

    Leang Buida, pesisir barat Kabaruan · besi

    Di gua hunian Leang Buida, peneliti menemukan 14 potong besi di lapisan atas, dua pecahan keramik dagang, dan banyak sisa ikan serta kerang. Gigi dan tulang kambing dari lapisan sekitar 1000 M menunjukkan kambing sudah ada di Talaud saat itu.

    Batasan: Besi itu bukti pemakaian, bukan peleburan atau bijih besi setempat.

    Sumber: Rintaro Ono, Sriwigati and Joko Siswanto (2018) Development of marine and terrestrial resource use in the Talaud Islands AD 1000-1800, northern Sulawesi region · diakses 24 Okt 2026

  6. sekitar 1200–1800
    ArkeologiTerdokumentasi

    Keramik dagang Tiongkok dan kampung akhir

    Leang Arandangana (Kabaruan); Bukit Tiwing (Salibabu)

    Leang Arandangana di Kabaruan memiliki lapisan sekitar 1200 M dengan gerabah Rarangunusa dan dua pecahan keramik dagang Tiongkok. Bukit Tiwing di Salibabu dihuni sekitar 1500–1800 M. Ini menunjukkan jaringan dagang dengan Filipina selatan.

    Batasan: Arandangana dikutip lewat Ono dkk. (2018) yang merujuk Tanudirjo (2001).

    Sumber: Rintaro Ono, Sriwigati and Joko Siswanto (2018) Development of marine and terrestrial resource use in the Talaud Islands AD 1000-1800, northern Sulawesi region · diakses 24 Okt 2026

  7. sekitar 1365
    Sebelum masa kolonialTradisi lisan

    Udamakatraya dan nama pulau lama

    Kepulauan Talaud

    Pemerintah kabupaten menulis bahwa Talaud pernah menjadi bagian Majapahit dengan nama Udamakatraya. Disebut pula nama lama: Maleon (Karakelang), Sinduane (Salibabu), Tamarongge (Kabaruan), Batunampato (Nanusa), dan Tinonda (Miangas).

    Batasan: Tradisi; pengaitan Udamakatraya (Nagarakertagama, 1365) dengan Talaud belum terbukti.

    Sumber: Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud Sejarah Kabupaten Kepulauan Talaud · diakses 24 Okt 2026

1500–1799: Portugis, Spanyol, dan VOC

  1. 1521
    Portugis dan SpanyolTerdokumentasi

    Pigafetta menyebut 'Talaut'

    Kepulauan Talaud ('Talaut')

    Dalam perjalanan ke Maluku, Antonio Pigafetta dari armada Magellan menyebut pulau 'Talaut' tepat sebelum 6 November 1521. Penyunting menganggapnya salah satu Kepulauan Talaud. Pulau itu tidak dideskripsikan.

    Batasan: Emas yang disebut Pigafetta berada di Sarangani dan Mindanao, bukan Talaud.

    Sumber: Antonio Pigafetta; ed. E.H. Blair & J.A. Robertson Primo viaggio intorno al mondo (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 33) · diakses 24 Okt 2026

  2. 1526
    Portugis dan SpanyolTerdokumentasi

    Loaísa melihat Miangas

    Miangas (Palmas)

    Menurut putusan Palmas, laporan ekspedisi Spanyol García Jofre de Loaísa menunjukkan pulau Palmas (Miangas) terlihat pada Oktober 1526. Di peta abad ke-16 pulau itu tertulis 'Ilha das Palmeiras'.

    Batasan: Huber menilai sekadar melihat pulau tidak memberi kedaulatan.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  3. 1544
    Portugis dan SpanyolTerdokumentasi

    Villalobos dan 'pulau-pulau Talao'

    Kepulauan Talaud ('islas de Talao')

    Anggota ekspedisi Spanyol Ruy López de Villalobos pada 1544 menemukan surat yang mengarahkan mereka ke 'pulau-pulau Talao'. Penyunting menyatakan Ortelius (1570) menggambarnya di antara Mindanao dan Halmahera, yaitu Kepulauan Talaud.

    Batasan: Laporan hanya menyebut pulau itu sebagai tujuan; tidak ada uraian tanah atau sumber daya.

    Sumber: E.H. Blair & J.A. Robertson (eds), summarising Santistéban Expedition of Ruy Lopez de Villalobos (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 2) · diakses 24 Okt 2026

  4. sekitar 1550–1700
    Sebelum masa kolonialDilaporkan

    Talaud dalam pengaruh Ternate

    Talaud ('Talaut or Tulour group')

    Valentijn memasukkan 'kelompok Talaut atau Tulour' ke dalam pulau-pulau di bawah Kesultanan Ternate. Dalam praktik, raja-raja Sangihe (Tabukan, Siau, Taruna, Tagulandang) menguasai kampung-kampung Talaud.

    Batasan: Daftar klaim Ternate, bukan bukti pemerintahan langsung.

    Sumber: E.H. Blair & J.A. Robertson (eds) The Philippine Islands 1493-1898, vol. 17 (note citing Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Moluccos pp. 3-4) · diakses 24 Okt 2026

  5. 1606–1666
    Portugis dan SpanyolDilaporkan

    Fransiskan Spanyol di 'Miangis'?

    Nanusa / Miangas ('Islas Miangis', NE dari Karakelang)

    Surat Provinsi Fransiskan di Filipina menyatakan 'Islas Miangis' di timur laut Karakelang direbut Spanyol pada 1606. Kaum Fransiskan disebut melayani di sana sampai 1666.

    Batasan: Huber menganggap pernyataan ini dugaan, bukan fakta lapangan. Kemungkinan yang dimaksud Kepulauan Nanusa.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  6. sekitar 1650–1663
    Portugis dan SpanyolTerdokumentasi

    Uraian Spanyol: tanah miskin, upeti berupa umbi

    Kepulauan Talaud ('Talaos')

    Daftar Yesuit tahun 1656 mencatat sekitar 11.000 jiwa 'Talaos' dengan pemimpin Kristen. Auditor Francisco de Montemayor y Mansilla menyebut empat pulau miskin dengan kelapa, sayur, sedikit padi, dan umbi untuk membayar upeti; mereka bawahan Tabukan dan Siau, dengan 800 keluarga terbaptis.

    Batasan: Tidak disebut logam atau tambang; itu tidak membuktikan tidak ada mineral.

    Sumber: Francisco Colin; ed. E.H. Blair & J.A. Robertson (1663) Jesuit missions in 1656, from Colin's Labor evangélica (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 28) · diakses 24 Okt 2026

  7. 1670–1677
    MisiTerdokumentasi

    Misi Yesuit di Talaud selatan

    Kaburuang/Kabaruan dan two southern Talaud kerajaan kecil

    Dua kerajaan kecil di Talaud bergantung pada raja Siau; pengkristenan baru dimulai awal 1670-an. Pada 1675 rumah pastor ditambahkan pada gereja di Pulau Kaburuang. Misi berakhir 1677 ketika garnisun Spanyol di Siau menyerah.

    Batasan: Benteng Spanyol Santa Rosa berada di Siau, bukan di Talaud.

    Sumber: Karel Steenbrink (in Aritonang & Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia) (2008) Catholic converts in the Moluccas, Minahasa and Sangihe-Talaud, 1512-1680 · diakses 24 Okt 2026

  8. 1670–1677
    MisiDilaporkan

    Yesuit di Lirung

    Lirung (Salibabu) dan 'Talaut'

    Valentijn menulis Yesuit Hieronymo de Crebueros setelah di Siau tinggal 'di pulau Talaut, atau Lirong'. Laporan gereja Protestan oleh Montanus (1675) menuduh Pater Emanuel Espanjola hendak memaksakan agama Katolik di Talaud dengan pedang.

    Batasan: Tuduhan berasal dari pihak Protestan; Espanjola menyangkalnya.

    Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026

  9. 1677
    VOCTerdokumentasi

    Kontrak VOC dengan raja-raja Sangihe

    Kepulauan Talaud (wilayah taklukan dari Tabukan, Siau, Taruna)

    Gubernur Robertus Padtbrugge membuat kontrak dengan raja Tabukan pada 3 November 1677; kontrak lain menyusul pada 1697, 1720, 1758, dan 1828. Raja menerima wilayahnya sebagai pinjaman (leen) dari VOC, tidak boleh menerima orang Spanyol, dan hanya boleh mengizinkan agama Reformasi. Dengan itu kampung-kampung Talaud milik raja-raja ini masuk lingkup VOC.

    Batasan: Kontrak dibuat di Sangihe; Talaud tercakup secara tidak langsung lewat para raja.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  10. sekitar 1680–1724
    VOCTerdokumentasi

    Valentijn melukiskan 'pulau-pulau Talaut'

    Karkelang (Karakelang), Kabroewang (Kabaruan), Lirong (Salibabu), Noessa (Nanusa)

    Valentijn memuat peta dan uraian empat pulau Talaud: Noessa, Karkelang, Lirong, dan Kabroewang. Karkelang punya sepuluh kampung di bawah Tabukan dan Tagulandang, dengan pegunungan di tenggara. Kabroewang di bawah raja Siau, berpenduduk sekitar 1.000 jiwa dengan 300 prajurit, dan miskin: hanya kelapa, minyak, dan umbi, serta ikan hiu kering sebagai makanan.

    Batasan: Valentijn tidak menyebut logam atau tambang di Talaud; datanya dari arsip VOC, bukan kunjungan sendiri.

    Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026

  11. 1686–1697
    Catatan perjalananDilaporkan

    Dampier: 'emas dan cengkeh' di Meangis

    Miangas ('Meangis') · emas

    William Dampier menulis bahwa pulau-pulau 'Meangis' kaya emas dan cengkeh. Ia mendengarnya dari seorang bangsawan bernama Jeoly, yang mengaku lahir di sana. Wichmann (1899) menunjukkan bahwa Meangis adalah Pulau Miangas.

    Batasan: Cerita tangan kedua. Wichmann menyebut informasi Jeoly keliru; tidak ada laporan kemudian yang membenarkan emas di Miangas.

    Sumber: A. Wichmann (1899) Die Insel Miangas · diakses 24 Okt 2026

  12. 1689–1695
    MisiTerdokumentasi

    Kunjungan Protestan dan kelaparan di Kabroewang

    Towadebale dan Manenare (Kabaruan); Lirung; Karkelang; Noenoessa

    Pendeta Gellius Cammiga hampir karam di Talaud dan di kampung Towadebale, Kabroewang, berhari-hari hanya makan daun karena tidak ada makanan. Penduduk Lirong minta menjadi Kristen bila raja Tabukan mengizinkan. Pada kunjungan berikutnya hanya tercatat 30 orang Kristen, 3 di Noenoessa, dan 10 di Karkelang.

    Batasan: Tahun penghitungan berikutnya tidak terbaca di OCR (kemungkinan 1695); lokasi 30 orang Kristen kurang jelas.

    Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026

  13. 1700–1706
    VOCTerdokumentasi

    Kapal VOC di Miangas

    Miangas ('Meangis', 'Mayages'); Nanusa; Kakorotan

    Pada November–Desember 1700 kapal VOC De Bye, Larycque, dan De Peer melihat pulau yang penduduknya mengibarkan bendera VOC; Larycque mendarat 9–10 Desember. Penduduk menunjukkan surat tahun 1681 (kini hilang) dari raja Marcus Lalero dari Tabukan. Pada 1701 aturan Tabukan juga berlaku untuk 'Nanusa dan Meamgy', dan pada 1706 gubernur menyebut Miangas bersama Kakorotan.

    Batasan: Huber menilai sangat mungkin, tetapi tidak pasti, bahwa pulau tahun 1700 itu Miangas.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  14. 1726–1857
    VOCTerdokumentasi

    Miangas beralih dari Tabukan ke Taruna

    Miangas ('Melangis') dan Nanusa

    Pada 1726 gubernur Ternate memutuskan status 80 orang 'Talaud' dari Miangas yang tiba di Taruna: rakyat Taruna atau Tabukan? Laporan 1825 masih memasukkan 'pulau jauh Melangis' ke Tabukan; pada Desember 1857 Kepulauan Nanusa dan Melangis termasuk Taruna.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  15. 1775
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Thomas Forrest di pelabuhan Lirung

    Lirung ('Leron') pelabuhan, Salibabu

    Kapten Inggris Thomas Forrest masuk pelabuhan Leron (Lirung) di antara Kabaruan dan Salibabu dengan bendera Belanda lalu mengunjungi dua raja di Salibabu dan membeli kacang, ubi, beras, dan kambing dengan kain katun. Salibabu sedang berperang dengan Kabaruan; ia melihat kepala manusia yang baru dipenggal tergantung di pohon. Ia menyebut pulau-pulau itu terolah baik dan kaya penduduk serta bahan makanan.

    Batasan: Kunjungan singkat; tidak ada catatan logam atau mineral.

    Sumber: Thomas Forrest (1780) A Voyage to New Guinea and the Moluccas, from Balambangan, 1774-1776 · diakses 24 Okt 2026

1800–1941: masa kolonial

  1. 1825
    Pemerintahan kolonialDilaporkan

    Komisaris pemerintah Van Delden menyebut Melangies

    Miangas ('Melangies'), NE dari the Nanusa pulau-pulau

    A.J. van Delden pada 1825 diutus sebagai komisaris pemerintah ke Kepulauan Sangihe dan Talaud. Ia melaporkan pulau Melangies yang berpenduduk cukup banyak di dekat Kepulauan Nanusa, di bawah kerajaan Tabukan.

    Batasan: Hanya diketahui lewat Wichmann (1899) yang mengutip 'De Talautsche Eilanden' (Indisch Magazijn 1844); naskah asli belum dilihat.

    Sumber: A. Wichmann (1899) Die Insel Miangas · diakses 24 Okt 2026

  2. 1857
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Laporan residen tentang Talaud

    Kepulauan Talaud ('Talauer-eilanden'), Karakelang

    Residen Manado menulis laporan panjang pada 12 Agustus 1857 tentang pemerintahan dan kampung (negeri) Kepulauan Talaud. Menurut laporan ini, raja-raja Tabukan sudah lama menaklukkan Kepulauan Talaud (Karakelang) sebelum Belanda datang.

    Batasan: Diketahui lewat putusan Palmas; laporan asli belum diperiksa.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  3. 1859–1888
    MisiTerdokumentasi

    Awal pekabaran Injil Protestan

    Salibabu, Karakelang, Kabaruan

    Empat 'zendeling-pekerja' Jerman dari komite Otto Gerhard Heldring tiba di Lirung pada 1 Oktober 1859; tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Talaud. A.C. van Essen bekerja di Salibabu, W. Richter dan C.F.W. Tauffmann di Karakelang (Richter kemudian di Beo), dan P. Gunther di Kabaruan (Mangarang).

    Batasan: Sumber sekunder (sejarawan lokal, berdasar Brilman 1938); berkas pribadi ada di Het Utrechts Archief.

    Sumber: Adrianus Kojongian (Barta1) (2020) Sejarah Kekristenan di Kepulauan Talaud (Bagian 2) · diakses 24 Okt 2026

  4. 1885
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Hickson ikut perjalanan residen

    Salibabu, Karakelang, Nanusa

    Naturalis Sydney Hickson ikut kapal pemerintah 'Ternate' pada November 1885. Di Lirung ia melihat toko Tionghoa yang menukar kain, besi, perkakas, dan gerabah dengan hasil bumi, dan ia bertemu seorang raja setempat di Karakelang. Di Karaton (Nanusa) ia menemukan terumbu karang tua 8–9 kaki di atas batas tumbuh karang dan menyimpulkan Kepulauan Talaud perlahan terangkat.

    Batasan: Tahun disimpulkan dari nama hari dalam teks (November 1885).

    Sumber: Sydney J. Hickson (1889) A Naturalist in North Celebes: a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands · diakses 24 Okt 2026

  5. 1885
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Beo: wabah dan 'zaman kayu'

    Beo, Karakelang · besi

    Di Beo Hickson mendengar bahwa dari hampir 9.000 orang di sekitarnya, 3.000 meninggal dalam beberapa bulan; raja juga wafat. Ia mengunjungi zendeling tua Richter. Hickson menulis orang Talaud hidup di 'zaman kayu': tombak dan perisai dari kayu, karena 'tidak ada besi dan tidak ada tembaga'.

    Batasan: Ini tentang budaya benda, bukan geologi; arkeologi justru menunjukkan pemakaian logam kuno. Sejarawan lokal menyebut Richter wafat 25 Mei 1885, bertentangan dengan Hickson.

    Sumber: Sydney J. Hickson (1889) A Naturalist in North Celebes: a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands · diakses 24 Okt 2026

  6. 1885–1889
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Kontrak Taruna dan pajak kepala

    Nanusa pulau-pulau dan Miangas

    Kontrak 1885 dengan Taruna juga mencakup Kepulauan Nanusa. Upeti lama berupa tikar, beras, dan barang lain diganti pajak kepala 1 gulden untuk tiap laki-laki di atas 18 tahun. Tabel 15 September 1889 mencatat 88 wajib pajak untuk 'Menagasa' (Miangas) di wilayah jogugu Nanusa.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  7. sekitar 1888–1900
    Pemerintahan kolonialTradisi lisan

    Kisah kursi emas yang terkubur

    Damau, Kabaruan · emas

    Menurut kisah yang didengar Yesuit A.J. van Aernsbergen di Kabaruan pada 1920-an, dekat Damau pernah ada biara Spanyol yang menyimpan harta karun. Posthouder J.E. Leidelmeijer konon pernah menggali di sana, tetapi tidak menemukan kursi emas atau gading.

    Batasan: Tradisi lewat sejarawan lokal; tidak ada bukti biara, harta, atau penambangan emas.

    Sumber: Adrianus Kojongian (2018) Jelajah Sejarah Manado: Kepulauan Talaud Tempo Dulu (3) · diakses 24 Okt 2026

  8. 1895–1896
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Kunjungan pejabat pertama dan lambang negara

    Miangas; Karaton (Karatung, Nanusa)

    Pada November 1895 residen Manado mengunjungi Miangas; menurut penduduk belum pernah ada kapal atau orang Eropa datang. Pada 2 November 1896 kepala Karaton menerima lambang Belanda, dan pada 4 November 1896 kapitan laut Miangas.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  9. 1896
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Posthouder di Lirung

    Lirung, Salibabu

    Dengan kuasa kerajaan, pemerintahan Kepulauan Talaud mendapat seorang posthouder berkedudukan di Liroeng (Salibaboe), bergaji 200 gulden sebulan. J.E. Leidelmeijer sudah menjadi posthouder sementara di Talaud sejak 1888.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1896) Nederlandsch-Indië, Batavia 1 April 1896 · diakses 24 Okt 2026

  10. 1898
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Sewa tanah di Kabaruan untuk mencari emas

    Kaboeroean (Kabaruan) · emas

    Komandan kapal Edi membuat kontrak dengan kerajaan Siau untuk sewa (erfpacht) 75 tahun atas sebagian Pulau Kaboeroean, 15 sen per bau per tahun. Ia ingin mendapatkan emas karena menduga ada emas dari 'batu-batu mengandung emas'. Sumatra-Courant mengulang berita ini pada 17 November 1898.

    Batasan: Tidak ada analisis, lokasi, kegiatan tambang, atau produksi yang diketahui; koran kedua mengulang berita yang sama.

    Sumber: De Locomotief (correspondent) (1898) Van Menado · diakses 24 Okt 2026

  11. 1898
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Orang Talaud di tambang emas Totok

    Kepulauan Talaud (asal para buruh) · emas

    Koloniaal Verslag 1899 mencatat bahwa perusahaan tambang Totok, pemegang konsesi emas di Minahasa, punya sekitar 225 pekerja, sebagian dari Kepulauan Talaud. Orang Talaud belum terbiasa kerja tambang. Di satu perusahaan eksplorasi, kuli dari Jawa dan Talaud melarikan diri.

    Batasan: Tambangnya di Minahasa, bukan di Talaud. Tidak menyatakan apa pun tentang bijih di Talaud.

    Sumber: Minister van Koloniën (1899) Koloniaal verslag van 1899, Bijlage C · diakses 24 Okt 2026

  12. 1898
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Kapal perang Edi berpatroli

    Kepulauan Talaud; Miangas

    Selama Perang Spanyol–Amerika, kapal Hr.Ms. Edi pada 13 Mei 1898 diperintahkan mengawasi Kepulauan Sangi dan Talaud serta menjaga netralitas. Kapal itu mengunjungi Miangas pada Juni dan September 1898 dan melaporkan penduduk membayar pajak dan lambang Belanda masih terpasang.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  13. 1898–1899
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Orang Talaud dicari sebagai buruh tambang

    Kepulauan Talaud (asal para buruh)

    Aturan Juli 1898 mengizinkan penduduk Kepulauan Sangi dan Talaud direkrut sebagai buruh kontrak untuk pertanian atau pertambangan di Keresidenan Menado. Pada 1899 sebuah perusahaan tambang emas di Kwandang–Sumalata menulis bahwa mereka berusaha mendatangkan kuli dari Kepulauan Sangi dan Talaud.

    Batasan: Tambangnya di daratan (Gorontalo), bukan di Talaud; jumlah buruh asal Talaud tidak diketahui.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1898) Nederlandsch-Indië, Batavia 13 Juli 1898 · diakses 24 Okt 2026

  14. 1899
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Ekspedisi Siboga: 'demam konsesi' sampai ke Kabaruan

    Lirung (Salibabu); Kaboeroean (Kabaruan)

    Kapal Siboga berlabuh di Beo dan Lirung pada 23-27 Juli 1899. Pada 27 Juli puncak tertinggi Salibabu didaki untuk penelitian geologi. Surat kabar menulis bahwa demam permohonan konsesi 'sudah' sampai ke Kaboeroean.

    Batasan: Tidak menyebut nama, mineral, atau lahan. Hasil geologi Salibabu tidak ditemukan dalam Weber (1902).

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1899) De Siboga-expeditie. Molukken, Augustus · diakses 24 Okt 2026

  15. 1899–1902
    KebijakanTerdokumentasi

    Kontrak baru: hak pertambangan ke Gubernemen

    Kepulauan Talaud (melalui raja-raja Sangihe)

    Pada November 1899 lima kerajaan Sangihe mendapat kontrak politik baru. Hak memberi izin penyelidikan dan konsesi tambang beralih dari raja ke Gubernemen. Talaud saat itu hanya terdiri atas wilayah bawahan kerajaan-kerajaan ini; misalnya dua desa di Karakelang milik Tagoelandang.

    Batasan: Ini aturan hukum, bukan temuan. Bahwa sewa 1898 di Kaboeroean gugur karenanya adalah dugaan.

    Sumber: Tweede Kamer (1902) Overeenkomsten met Inlandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel (Nota van Toelichting) · diakses 24 Okt 2026

  16. 1902
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Permohonan tambang di Karakelang ditolak

    Karakelang

    Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan permohonan S.W.B. Hijde dan G. de Kruijff van Dorssen untuk penyelidikan tambang di Pulau Karakelang ditolak. Ini permohonan tambang pertama yang ditemukan dengan menyebut Karakelang.

    Batasan: Berita tidak menyebut jenis mineral atau alasan penolakan.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1902) Nederlandsch-Indië, Batavia 16 Augustus 1902 (Mijnbouw) · diakses 24 Okt 2026

  17. 1902
    KebijakanTerdokumentasi

    Wilayah Sangi dibuka untuk pertambangan

    Kabaruan, Nanusa dan Miangas (melalui raja-raja Sangihe)

    Javasche Courant 4 April 1902 mengumumkan pemerintah tidak keberatan atas penyelidikan tambang swasta di Siauw, Kandhar-Taroena, Nanganitoe, Taboekan, dan Tagoelandang (Kepulauan Sangi dan Talaud). Kerajaan-kerajaan ini punya wilayah di Talaud: Siau di Kabaruan, Kandhar-Taruna di Nanusa dan Miangas.

    Batasan: Berita tidak menyebut pulau Talaud; jangan dipakai sebagai bukti Talaud dibuka atau ditambang.

    Sumber: Het Vaderland (citing Javasche Courant 4-4-1902) (1902) Mijnbouw · diakses 24 Okt 2026

  18. 1903
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Izin penyelidikan untuk tiga lahan di Karakelang

    Karakelang (afdeeling Sangi- en Talauer-eilanden)

    Permohonan J. Bosman untuk penyelidikan tambang di tiga lahan di Pulau Karakelang dikabulkan. Ini izin penyelidikan pertama yang ditemukan diberikan di Talaud.

    Batasan: Jenis mineral, lokasi, dan hasil tidak diketahui; lihat Jaarboek van het Mijnwezen dan Javasche Courant 1903.

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1903) Nederlandsch-Indië, Batavia 31 Maart 1903 · diakses 24 Okt 2026

  19. 1904–1936
    InsidenTerdokumentasi

    Gelombang pasang dan gempa

    Kepulauan Talaud

    Pada Oktober 1904 telegram melaporkan gelombang pasang merusak berat Kepulauan Talaud; sebuah kapal uap dikirim. Gempa 1 April 1936 merobohkan 127 rumah di Talaud dan melukai tujuh orang.

    Batasan: Berita singkat; lokasi di pulau tidak disebut.

    Sumber: Arnhemsche Courant (1904) Koloniën (Batavia, 25 October) · diakses 24 Okt 2026

  20. 1906
    HukumTerdokumentasi

    Jenderal Wood di Miangas

    Miangas (Palmas)

    Jenderal Leonard Wood, gubernur Provinsi Moro, mengunjungi Miangas pada 21 Januari 1906 dan heran melihat bendera Belanda di pantai. Kunjungan ini memicu sengketa antara Amerika Serikat dan Belanda.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  21. 1912
    KebijakanTerdokumentasi

    Raja-raja Sangihe menyerahkan Talaud

    Mengarang, Kaboeroean dan Todoeale (Kabaruan); djogoegoeschappen on the Talaud dan Nanusa pulau-pulau

    Pada 1912 para penguasa swapraja di Sangihe melepaskan hak mereka atas wilayah jogugu di Kepulauan Talaud dan Nanusa. Siau menyatakan di Ulu pada 6 Mei 1912 bahwa Mengarang, Kaboeroean, dan Todoeale diserahkan kepada Gubernemen.

    Batasan: Sebuah koran tahun 1933 masih menyebut Kaboeroean wilayah jogugu Siau; tampaknya usang, tetapi belum diperiksa.

    Sumber: Tweede Kamer (1914) Overeenkomsten met inlandsche zelfbestuurders in Nederlandsch-Indië · diakses 24 Okt 2026

  22. 1912
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    'Tidak ada mineral penting yang diketahui'

    Kepulauan Talaud

    Sebuah artikel tinjauan menulis geologi Kepulauan Sangi dan Talaud masih sedikit diketahui; selain belerang dan sejenis tanah liat pipa (dipakai sebagai kapur putih) tidak ada mineral penting yang diketahui. Talaud berpenduduk 18.992 jiwa; beberapa orang Eropa punya izin menjual kayu di Talaud.

    Batasan: Pernyataan mineral berlaku untuk kedua gugus; belerang berasal dari gunung api di Sangihe.

    Sumber: Tijdschrift voor economische geographie (anonymous) (1912) De Sangi- en Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026

  23. 1913
    InsidenTerdokumentasi

    Wabah demam di Talaud

    Karakelang, Kaboeroean, Salibaboe

    Di onderafdeling Kepulauan Talaud kasus demam turun dari 2.472 menjadi sekitar 1.200 dalam sebulan, dan kematian dari 166 menjadi 39. Kasus terbanyak di Salibaboe; di Karakelang dan Kaboeroean penyakit mereda, mungkin karena kina dan hujan.

    Batasan: Berita ini juga menegaskan Kaboeroean adalah Kabaruan sekarang (bagian Talaud).

    Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1913) Nederlandsch-Indië, Batavia 18 Augustus · diakses 24 Okt 2026

  24. 1914–1920
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    BPM minta izin penyelidikan di Karakelang

    Karakelang

    Residen Manado mengumumkan pada 20 Desember 1920 bahwa Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) pada 17 Januari 1914 memohon izin penyelidikan tambang di Karakelang. Sebuah koran memakainya sebagai contoh birokrasi yang lamban.

    Batasan: BPM perusahaan minyak, tetapi berita tidak menyebut jenis mineral; hasil permohonan tidak diketahui.

    Sumber: Deli Courant (1921) Grapjes en snapjes · diakses 24 Okt 2026

  25. 1921–1928
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Roothaan: peta geologi pertama Talaud

    Talaud dan Nanusa pulau-pulau

    Ahli geologi BPM H.Ph. Roothaan melakukan survei lapangan pada 1921 dan menerbitkan 'Geologische en petrografische schets der Talaud- en Nanoesa-eilanden' dengan peta 1:200.000 di Jaarboek van het Mijnwezen. Ia menggambarkan inti terutama gabro dan peridotit, ditutupi lapisan tipis rijang radiolaria, breksi, batupasir, dan napal.

    Batasan: Isi diketahui dari ringkasan Van Gorsel; naskah asli (Verhandelingen II, hlm. 174-220) belum diperiksa.

    Sumber: J.T. van Gorsel Bibliography of the Geology of Indonesia and Surrounding Areas, VI. North Moluccas (entry Roothaan 1928) · diakses 24 Okt 2026

  26. 1925–1939
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Batuan Talaud digolongkan secara kimia

    Kepulauan Talaud

    Tinjauan dalam Geologie & Mijnbouw (1939) menyebut Roothaan meneliti batuan Talaud. Menurutnya batuan itu termasuk deret 'pasifik' dengan sedikit pengaruh 'mediteran'.

    Batasan: Penggolongan petrologi, bukan temuan bijih. Naskah Roothaan sendiri belum dilihat.

    Sumber: Geologisch-Mijnbouwkundig Genootschap (1939) Geologie & Mijnbouw 1 (1939) nr. 3 · diakses 24 Okt 2026

  27. 1926
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Lam: gunung serpentin dan tanah miskin

    Karakelang, Salibabu, Nanusa

    Ahli botani H.J. Lam meneliti flora Karakelang, Salibabu, dan Kepulauan Nanusa. Ia menulis sebuah gunung di Karakelang terdiri dari serpentin sehingga floranya sangat berbeda; di tempat lain batuan dalam hanya muncul di dasar sungai. Tanahnya miskin: kopra hampir satu-satunya ekspor, belalang merusak banyak tanaman, dan Talaud berpenduduk sekitar 20.000 jiwa.

    Batasan: Laporan botani; tidak meneliti bijih.

    Sumber: H.J. Lam (in Bataviaasch Nieuwsblad) (1926) Vegetatie der Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026

  28. 1927
    Pemerintahan kolonialTerdokumentasi

    Talaud sebagai swapraja dan onderafdeling sendiri

    Beo dan Lirung; onderafdeeling Talaud-eilanden

    Regeeringsalmanak 1927 mencatat onderafdeling Talaud-eilanden dengan seorang kepala swapraja setempat. Ada pengadilan pribumi di Beo untuk swapraja Talaud. Zending punya pos di Lirung (Salibabu) dan di Karakelang.

    Batasan: Daftar administrasi; tanpa pertambangan. OCR almanak kurang rapi.

    Sumber: Landsdrukkerij (1927) Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië 1927 · diakses 24 Okt 2026

  29. 1928
    HukumTerdokumentasi

    Putusan Palmas: Miangas milik Belanda

    Miangas (Palmas)

    Arbiter Max Huber dari Mahkamah Arbitrase Permanen memutuskan pada 4 April 1928 bahwa Pulau Palmas (Miangas) sepenuhnya wilayah Belanda. Yang menentukan adalah kekuasaan damai dan berkelanjutan lewat raja-raja Sangihe, bukan penemuan oleh Spanyol.

    Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026

  30. 1929–1938
    Catatan perjalananTerdokumentasi

    Ekspedisi Snellius: karang muda terangkat

    dekat Mahammale, Talaud

    Ahli geologi Ph.H. Kuenen dari Ekspedisi Snellius mengumpulkan karang dari napal laut yang terangkat dekat Mahammale. Umbgrove (1938) menemukan 15 spesies yang semuanya masih hidup; jadi lapisan itu muda (Pleistosen hingga Holosen).

    Batasan: Pulau tempat Mahammale tidak disebut dalam ringkasan.

    Sumber: J.H.F. Umbgrove (1938) Corals from an elevated marl of Talaud (East Indies) · diakses 24 Okt 2026

1942–1998: perang, kemerdekaan, dan Orde Baru

  1. 1942–1945
    PerangDilaporkan

    Pendudukan Jepang

    Kepulauan Talaud; Beo teluk (Karakelang)

    Jepang menduduki Kepulauan Talaud sejak awal 1942 sampai menyerah pada 1945. Seorang wartawan Belanda menulis pada 1954 bahwa Jepang menempatkan garnisun sekitar 3.000 orang di Talaud dan memakai teluk Beo sebagai pangkalan armada. Sebuah koran tahun 1946 melaporkan bahwa selama pendudukan Jepang memenggal raja-raja Kepulauan Sangi dan Talaud.

    Batasan: Berita pers tanpa bukti arsip; jumlah pasukan dan eksekusi perlu dicek di arsip Jepang dan NEFIS.

    Sumber: De Nieuwsgier (1954) Beo · diakses 24 Okt 2026

  2. 1944
    PerangTerdokumentasi

    Rencana pendaratan Amerika di Talaud dibatalkan

    Kepulauan Talaud

    Jenderal MacArthur pada 23 Juli 1944 merencanakan pendaratan di Kepulauan Talaud pada 15 Oktober 1944 untuk membangun lapangan terbang di antara Morotai dan Mindanao. Pada 15 September 1944 operasi itu dibatalkan; serangan ke Leyte dimajukan ke 20 Oktober dan Talaud hanya diserang dari udara dan laut.

    Sumber: W.F. Craven & J.L. Cate (eds) (1953) The Army Air Forces in World War II, vol. V, chapter 10 · diakses 24 Okt 2026

  3. 1944
    PerangTerdokumentasi

    Pengeboman Beo

    Beo, Karakelang

    Pada 20 Agustus 1944 pesawat B-25 Amerika menyerang wilayah Beo untuk melindungi pemotretan udara; hanya dua pesawat tempur Jepang muncul. Kemudian pada 1944 kelompok kapal induk menyerang Kepulauan Talaud. Menurut wartawan tahun 1954, hampir tidak ada rumah tersisa di Beo, hanya gereja yang sebagian selamat.

    Batasan: Kehancuran Beo bersumber dari artikel koran tahun 1954.

    Sumber: W.F. Craven & J.L. Cate (eds) (1953) The Army Air Forces in World War II, vol. V, chapter 10 · diakses 24 Okt 2026

  4. 1945–1947
    PerangDilaporkan

    Pilot Australia dieksekusi

    dekat Karakelang dan Maroh; Beo

    Tiga pilot Skuadron 80 RAAF mendarat darurat di laut dekat Karakelang dan Maroh pada 13 Januari 1945, ditawan, dan dibunuh pasukan Jepang pada Maret 1945. Tim pencari RAAF menemukan jasad mereka di Beo pada 21 Februari 1947; mereka dimakamkan di makam perang Ambon.

    Batasan: Situs sekunder; perlu dicek di arsip Australia (NAA, AWM).

    Sumber: Pacific Wrecks Talaud Island Group (Talaud Islands), North Sulawesi Province, Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  5. 1954
    KemerdekaanTerdokumentasi

    Presiden Soekarno di Beo

    Beo, Karakelang

    Presiden Soekarno mengunjungi Talaud, 'pulau paling utara Indonesia'; ibu kota Beo dengan sekitar seribu penduduk dihias dan paduan suara bernyanyi. Wartawan lain menulis Beo sebelum perang adalah kedudukan controleur dan setelah pengeboman dibangun kembali dengan rumah kayu dan bambu.

    Sumber: Algemeen Indisch Dagblad: de Preangerbode (P.I.-Aneta) (1954) President op eiland Talaud · diakses 24 Okt 2026

  6. 1958
    PerangTerdokumentasi

    Permesta: pasukan pemerintah menduduki Talaud

    Kepulauan Talaud

    Saat pemberontakan Permesta, tentara Indonesia melaporkan pasukan pemerintah menduduki gugus Sangi dan Talaud pada 21 Mei 1958 tanpa perlawanan. Akibatnya pemberontak kehilangan jalur ke Filipina dan sumber pendapatan kaya: kopra.

    Batasan: Komunike tentara lewat kantor berita; tanpa rincian per pulau.

    Sumber: Winschoter Courant (1958) Opstandelingenleiders gearresteerd op Celebes en Borneo · diakses 24 Okt 2026

  7. 1959
    KebijakanTerdokumentasi

    Daerah Tingkat II Sangihe dan Talaud

    Kepulauan Talaud (diperintah dari Sangihe)

    UU No. 29 Tahun 1959 membentuk Daerah Tingkat II Kepulauan Sangihe dan Talaud dengan pusat pemerintahan di Tahuna, Sangihe. Talaud tetap menyatu secara administratif dengan Sangihe sampai 2002.

    Sumber: Republik Indonesia (1959) UU No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi · diakses 24 Okt 2026

  8. 1976–1995
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Pemetaan geologi modern

    Karakelang, Salibabu, Kabaruan, Nanusa

    Ahli geologi Indonesia dan Amerika (Sukamto, Suwarna, Moore, dan lain-lain) menggambarkan Talaud sebagai busur luar non-vulkanik dengan melange dan ofiolit (serpentinit, gabro, basal, rijang). Blok Talaud terangkat lebih dari 2.000 m sejak Pliosen. Peta Geologi Lembar Talaud 1:250.000 terbit 1986 dan 1995.

    Batasan: Konteks geologi, bukan temuan bijih.

    Sumber: G.F. Moore, D. Kadarisman, C.A. Evans & J.W. Hawkins (1981) Geology of the Talaud Islands, Molucca Sea collision zone, northeast Indonesia · diakses 24 Okt 2026

  9. 1997–2013
    Penelitian dan perusahaan modernDilaporkan

    Kontrak Karya emas di Karakelang utara

    Karakelang (bagian utara) · emas

    Tabel kabupaten tahun 2012 mencantumkan Kontrak Karya emas PT Tambang Mas Sangihe seluas 40.080 ha di 'Karakelang bagian utara', tahap eksplorasi, 1997–2013. Kontrak 1997 berlaku untuk Kabupaten Sangihe Talaud saat itu; wilayah sekarang hanya di Sangihe.

    Batasan: Sumber sekunder (laporan mahasiswa); batas dan data eksplorasi belum dilihat.

    Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi dan persebaran mineral non logam dan logam Kabupaten Talaud (table Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Kab. Kepulauan Talaud 2012) · diakses 24 Okt 2026

Sejak 1999: desentralisasi hingga kini

  1. 2002
    KebijakanTerdokumentasi

    Kabupaten Kepulauan Talaud berdiri

    Kabupaten Kepulauan Talaud (Melonguane)

    UU No. 8 Tahun 2002 (10 April 2002) memisahkan Talaud dari Sangihe menjadi Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan tujuh kecamatan. Kabupaten diresmikan 2 Juli 2002; ibu kotanya Melonguane.

    Sumber: Republik Indonesia (2002) UU No. 8 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara · diakses 24 Okt 2026

  2. 2008–2016
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Penelitian ilmiah pasir besi

    West Karakelang · pasir besi

    Penelitian LIPI dan Puslitbang Geologi Kelautan menemukan magnetit, rutil, zirkon, dan olivin di pasir pantai, serta endapan pantai kaya magnetit di pesisir barat Karakelang. Sungai menyumbang sebagian; pengangkatan memindahkan pasir ke beting dangkal.

    Batasan: Di satu pantai sumbangan sungai sangat kecil; tidak ada sumber daya ekonomis yang ditetapkan.

    Sumber: M.A. Mustafa, D. Setiady & U. Kamiludin (2016) Keterdapatan pasirbesi di Pantai Beo dan sekitarnya · diakses 24 Okt 2026

  3. 2010–2011
    Penelitian dan perusahaan modernDilaporkan

    Izin pasir besi dan mangan

    Melonguane wilayah dan Karakelang · pasir besi

    Tabel kabupaten yang sama mencantumkan sekitar 2010 IUP pasir besi 1.792 ha dekat Melonguane dan blok mangan 3.750 ha di Karakelang. Pada November 2011 ANTARA, mengutip pejabat provinsi, memberitakan 'potensi' sekitar 715.250 ton pasir besi di Talaud.

    Batasan: Tanpa koordinat, kadar, atau klasifikasi sumber daya; tidak diketahui apakah pernah ditambang.

    Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi bahan galian pasir besi Kab. Talaud · diakses 24 Okt 2026

  4. 2012
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Inventarisasi mineral pemerintah (PSDG)

    Karakelang, Kabaruan, Salibabu · emas

    Pusat Sumber Daya Geologi menemukan emas 25–49 ppb dalam 44 sedimen sungai, sinabar di 21 dari 43 konsentrat dulang, dan bongkah mangan 27,60–61,64 % Mn di Karakelang. Batuan di bekas lubang emas rakyat di Salibabu dan Kabaruan hanya 1–6 ppb emas, yang disebut PSDG 'tidak ekonomis'.

    Batasan: Sumber tidak konsisten soal pulau lubang tua (Salibabu atau Kabaruan); anomali tidak membentuk zona menyatu.

    Sumber: R.M. Faisal & I. Muksin (2012) Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara · diakses 24 Okt 2026

  5. 2016
    Sebelum masa kolonialTradisi lisan

    Mane'e dan larangan laut e'ha

    Kakorotan, Intata dan Malo (Nanusa)

    Di Kakorotan dan Intata masyarakat sekali setahun menangkap ikan bersama dengan tali panjang dari janur (mane'e). Sebelumnya berlaku masa e'ha, larangan memanen di laut dan darat; penelitian 2016 menyebut satu tahun.

    Batasan: Tradisi hidup; usianya tidak terdokumentasi. Sumber populer mengaitkan asal-usulnya dengan tsunami 1628 (belum terkonfirmasi).

    Sumber: Merlin Laira (2016) Upacara Mane'e pada Masyarakat Kakorotan Kecamatan Nanusa Kabupaten Kepulauan Talaud · diakses 24 Okt 2026

  6. 2024
    Penelitian dan perusahaan modernTerdokumentasi

    Satu-satunya wilayah tambang: kuari 1,5 ha

    Beo Selatan kecamatan, Karakelang

    Register ESDM mencatat WIUP 1,5 ha untuk 'batu gunung quarry besar' di kecamatan Beo Selatan, berstatus 'pencadangan' sejak 19 Agustus 2024. Menurut tinjauan ESMI 2026, ini satu-satunya wilayah tambang di Talaud; tidak ada WPR emas dan izin logam.

    Batasan: Pencadangan, bukan bukti kegiatan tambang aktif.

    Sumber: ESMI Mining Intelligence (2026) Talaud integrated mineral and environment intelligence, §12.2 (ESDM WIUP record) · diakses 24 Okt 2026

Ukur dulu: cara kerja ESMI di sini

ESMI bekerja sama dengan pemerintah Talaud dalam program pengukuran. Prinsipnya: ukur dulu, baru memutuskan. Halaman ini tidak memuat lokasi atau koordinat penelitian.

  1. Catat kondisi dasar duluSebelum ada yang terganggu, kami mengukur air, tanah, hutan, dan hewan. Dengan begitu nanti diketahui apa yang berubah.
  2. XRF lapangan hanya pandangan pertamaAlat genggam (XRF) menunjukkan kira-kira unsur apa yang ada. Untuk emas alat ini kurang peka dan tidak membuktikan apa pun.
  3. Konfirmasi di laboratorium terakreditasiHasil baru kami sebut andal jika laboratorium terakreditasi dengan kendali mutu (QA/QC) mendapat hasil yang sama.
  4. Hindari alam lindung dan sarangKami tidak masuk kawasan lindung dan tidak mengganggu sarang, tempat tidur, dan habitat kritis.
  5. Bersama pemerintahIzin dari pemerintah dan masyarakat didahulukan sebelum setiap langkah di lapangan.
  6. Pemulihan adalah bagian dari rencanaJika tanah tetap terganggu, kami segera memulihkan: POCO (pemulihan dengan tanaman dan mikroba) di setiap bagian yang terganggu, penanaman kembali, dan pemulihan spesies.

Sinyal bukan bukti. Hasil ukur ESMI bukan temuan, bukan cadangan, dan bukan nilai.

Belum diteliti

7 pulau kecil, yaitu Kepulauan Nanusa, belum diteliti.

  • Marampit 15 km²
  • Karatung 7,6 km²
  • Mangupun 2,1 km²
  • Mallo 1,6 km²
  • Garat 1,4 km²
  • Kakorotan 0,6 km²
  • Intata 0,3 km²

Untuk pulau-pulau ini kami tidak punya data. Itu tidak berarti bersih, aman, atau miskin mineral. Artinya hanya: tidak diketahui. Tanpa penelitian kami tidak menyatakan peluang atau risiko.

Sumber dan metode

Setiap angka di halaman ini punya sumber dan tanggal. Di bawah ini semua sumber beserta lisensinya.

ApaSumberTanggalLisensi
IzinESDM MODI / Geoportal ESDM21 Okt 2026Data pemerintah terbuka
Area tambangCheng et al. 2026 + Maus et al. 20222018–2021CC BY 4.0
Hilangnya hutan dan tutupan hutanHansen/UMD Global Forest Change (v1.13)22 Okt 2026CC BY 4.0
Nitrogen dioksidaCopernicus Sentinel-5P TROPOMI NO220 Okt 2026Copernicus, penggunaan bebas
Batas wilayahBPS / OCHA COD-AB 20202020CC BY 3.0 IGO
SpesiesPengamatan hewan GBIF dengan Daftar Merah IUCN melalui GBIF (17 Juli 2026); Riley (2002, 2003); Repi dkk. (2020)17 Jul 2026CC0 / CC BY
Survei geologiFaisal & Muksin (2012), Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud, Prosiding PSDG 2012, Badan Geologi (ESDM)2012Publikasi pemerintah
SejarahSetiap peristiwa dalam lini masa menyebut sumbernya sendiri, dengan tautan dan tanggal kami mengaksesnya.

Cara kami membaca dan memakai angka

  • Sinyal bukan bukti: citra satelit, pengukuran, atau berita menunjuk arah, bukan membuktikan.
  • Area tambang terpetakan bukan ilegalitas. Ini tidak menyatakan ada atau tidaknya izin.
  • Hilangnya hutan adalah kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih.
  • Yang tidak kami miliki, kami sebut "belum dimuat". Kami tidak menampilkan nol.
  • Batas disederhanakan dan bukan hasil survei. Angka diperbarui saat sumber diperbarui.

Semua pulauPeta izin tambang per provinsi