Kepulauan Talaud: izin tambang dan dampak lingkungan
Tidak ada izin tambang aktif. Daftar resmi menunjukkan 1 wilayah dalam persiapan (tambang batu seluas 1,5 ha). Sekitar 95,2 % lahannya berupa hutan. Pada 2025 hilang 103 ha tajuk pohon, dari semua penyebab.
Apa yang berubah?
Hilangnya hutan: tahun terakhir dibanding sebelumnya
103 ha 2025
Itu 33,9 % lebih sedikit dari rata-rata 2020–2024 (156 ha per tahun).
Ini hilangnya hutan dari semua penyebab: penebangan, pertanian, kebakaran, badai, dan tambang. Ini tidak berarti tambang penyebabnya.
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026
Izin menurut status
WIUP adalah wilayah yang disiapkan untuk izin, belum izin. WPR adalah zona pertambangan rakyat skala kecil. Hanya "aktif" yang dihitung sebagai izin dalam angka utama.
Sumber: ESDM MODI / Geoportal ESDM · 21 Okt 2026
Pulau-pulau sekilas
Talaud terdiri dari 10 pulau di utara Sulawesi Utara. Ibu kota kabupaten adalah Melonguane. Tiga pulau besar: Karakelang, Salibabu, dan Kabaruan. Miangas juga bagian dari kabupaten, tetapi di sini hanya sebagai konteks.
| Pulau | Luas daratan (km²) | Hutan tahun 2000 (% dari pulau) | Pengetahuan |
|---|---|---|---|
| Karakelang | 801 | 97 % | Ada data |
| Kabaruan | 93 | 95,3 % | Ada data |
| Salibabu | 86 | 92,7 % | Ada data |
| Marampit | 15 | 91 % | Belum diteliti |
| Karatung | 7,6 | 79,9 % | Belum diteliti |
| Mangupun | 2,1 | 88,9 % | Belum diteliti |
| Mallo | 1,6 | 73,3 % | Belum diteliti |
| Garat | 1,4 | 90,9 % | Belum diteliti |
| Kakorotan | 0,6 | 77,3 % | Belum diteliti |
| Intata | 0,3 | 78,3 % | Belum diteliti |
Jumlah penduduk per pulau (BPS) belum dimuat. Karena itu kami tidak menampilkan angka.
Sumber: kajian meja ESMI dengan batas pulau dan Hansen/UMD Global Forest Change; per 17 Jul 2026.
Alam lebih dulu
Di pulau-pulau besar hampir semuanya hutan. Karena itu di sini kami mengukur dulu, baru melihat soal tambang.
Tutupan hutan dan hilangnya hutan per pulau
| Pulau | Hutan 2000 | Hilang 2001–2024 | % dari hutan 2000 |
|---|---|---|---|
| Karakelang | 97 % | 50,5 km² | 6,5 % |
| Kabaruan | 95,3 % | 4,8 km² | 5,4 % |
| Salibabu | 92,7 % | 2,4 km² | 3 % |
| Marampit | 91 % | 1,3 km² | 9,7 % |
| Karatung | 79,9 % | 0,09 km² | 1,5 % |
| Mangupun | 88,9 % | 0,07 km² | 4 % |
| Mallo | 73,3 % | 0,07 km² | 6,1 % |
| Garat | 90,9 % | 0,00 km² | 0,1 % |
| Kakorotan | 77,3 % | 0,00 km² | 0 % |
| Intata | 78,3 % | 0,00 km² | 0 % |
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change v1.12 (2001–2024), hutan tahun 2000 dengan tajuk minimal 30 %, dipotong pada batas pulau; per 17 Jul 2026.
Kehilangan adalah kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab (tebang, pertanian, badai, kebakaran). Ini tidak membuktikan tambang sebagai penyebab dan bukan perubahan hutan bersih. Tanpa kehilangan tidak berarti tidak ada perubahan.
Kawasan lindung
Kawasan lindung "Karakelang Wildlife Reserve" (kategori IUCN IV) tumpang tindih sekitar 287 km² dengan Karakelang, yaitu 35,9 % dari pulau. Di dalamnya hilang 16,4 km² tajuk pohon antara 2001 dan 2024, 5,7 % dari hutan tahun 2000. Ini juga dari semua penyebab. Dilindungi tidak berarti semua hutan utuh.
Sumber: Protected Planet (WDPA) x Hansen v1.12; per 17 Jul 2026.
Sedikitnya 13 spesies hewan terancam
Dari pengamatan hewan (GBIF) ada 9 spesies yang kini berstatus terancam di Daftar Merah IUCN. Penelitian lapangan di Talaud menambah 4. Totalnya sedikitnya 13 spesies. Ini batas bawah, bukan penghitungan lengkap.
| Spesies | Status (IUCN) | Dasar data |
|---|---|---|
| Kuskus beruang Talaud Ailurops melanotis | CR kritis | Penelitian lapangan |
| Kalong Talaud Acerodon humilis | EN terancam punah | Penelitian lapangan |
| Melomys Talaud ekor pendek Melomys caurinus | EN terancam punah | Penelitian lapangan |
| Melomys Talaud ekor panjang Melomys talaudium | EN terancam punah | Penelitian lapangan |
| Mandar Talaud Gymnocrex talaudensis | EN terancam punah | Pengamatan (GBIF) |
| Sampiri (nuri) Eos histrio | EN terancam punah | Pengamatan (GBIF) |
| Burung mandar (Amaurornis magnirostris) | VU rentan | Pengamatan (GBIF) |
| Biawak (Varanus lirungensis) | EN terancam punah | Pengamatan (GBIF) |
| Kupu-kupu sayap burung (Troides dohertyi) | VU rentan | Pengamatan (GBIF) |
| Kedidi besar (burung migran) Calidris tenuirostris | EN terancam punah | Pengamatan (GBIF) |
| Kedidi ekor tajam (burung migran) Calidris acuminata | VU rentan | Pengamatan (GBIF) |
| Cerek besar (burung migran) Pluvialis squatarola | VU rentan | Pengamatan (GBIF) |
| Capung jarum (famili Chlorocyphidae) | EN terancam punah | Pengamatan (GBIF) |
Sumber: pengamatan hewan GBIF dan Daftar Merah IUCN melalui GBIF; Riley (2002, 2003); Repi dkk. (2020); per 17 Jul 2026.
- GBIF menunjukkan di mana orang mengamati, bukan di mana hewan berada. 4.904 pengamatan memberi 262 spesies; pulau-pulau kecil nyaris tidak diamati. Tanpa pengamatan berarti "tidak diketahui", bukan "tidak ada".
- Jumlah hewan dari penelitian lama (1999, 2016) bersifat historis. Kami tidak memakainya sebagai jumlah saat ini.
- Daftar spesies bukan inventaris lengkap hewan di Talaud.
Dampak
Hilangnya hutan per tahun
| Tahun | ha |
|---|---|
| 2001 | 339 |
| 2002 | 937 |
| 2003 | 320 |
| 2004 | 303 |
| 2005 | 358 |
| 2006 | 43 |
| 2007 | 361 |
| 2008 | 6 |
| 2009 | 19 |
| 2010 | 85 |
| 2011 | 431 |
| 2012 | 41 |
| 2013 | 29 |
| 2014 | 221 |
| 2015 | 222 |
| 2016 | 678 |
| 2017 | 177 |
| 2018 | 204 |
| 2019 | 284 |
| 2020 | 214 |
| 2021 | 137 |
| 2022 | 156 |
| 2023 | 128 |
| 2024 | 144 |
| 2025 | 103 |
Kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih. Diagram tidak menunjukkan penyebab.
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13), tajuk pohon minimal 30 % · 22 Okt 2026
Area tambang terpetakan
0 ha
Pada peta yang digunakan, tidak ada area tambang di sini.
Sumber: Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022, pengamatan 2018–2021
Tutupan hutan
95,2 %
Bagian lahan dengan tajuk pohon minimal 30 % pada tahun 2000.
Sumber: Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) · 22 Okt 2026
Kawasan lindung
35,9 %
Bagian Karakelang yang masuk kawasan lindung "Karakelang Wildlife Reserve". Kawasan lindung tidak berarti semua hutan utuh.
Sumber: Protected Planet (WDPA) x Hansen v1.12 · 17 Jul 2026
Sekolah dan layanan kesehatan di dekat tambang
Belum dimuat
Sekolah dan layanan kesehatan untuk wilayah ini belum dimuat. Karena itu kami tidak menampilkan angka.
Di atas kabupaten ini rata-rata kolom NO₂ pada Sep 2026 adalah 0,3 (10¹⁵ molekul per cm²). Selisih dengan sekitarnya: 0,0; tidak ada tanda peningkatan lokal. Kualitas D.
Ini sinyal satelit (Sentinel-5P), bukan pengukuran kesehatan. NO₂ juga berasal dari lalu lintas dan kebakaran. Kualitas A terbaik, D terendah.
Geologi singkat
Talaud adalah punggungan batuan terangkat tanpa gunung api aktif, di zona tumbukan Laut Maluku.
- Melange: campuran blok peridotit, serpentinit, gabro, basal, sekis, dan marmer dalam lempung.
- Batuan ultramafik di Kabaruan: peridotit, serpentinit, gabro, dan basal.
- Batuan gunung api Pampini: breksi, tuf, lava, dan diorit.
- Batu gamping koral dan endapan muda di pesisir.
Peta geologi resmi Talaud berskala 1:250.000.
Pada peta resmi tidak ada simbol bijih logam dan tidak ada bagian khusus tentang sumber daya mineral. Peta membantu menentukan di mana bisa melihat, tetapi tidak melaporkan bijih.
Sumber: Peta Geologi Lembar Talaud, Sulawesi, Sukamto & Suwarna, 1986 (reprint 1995), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Badan Geologi).
Temuan survei resmi (PSDG 2012)
Pada 2012 badan geologi pemerintah (PSDG) melakukan inventarisasi mineral di Talaud. Ini temuannya:
- Bongkah mangan dengan 27,6 sampai 61,6 % mangan, di Karakelang.
- Dalam 44 contoh pasir sungai, emas berkisar 25 sampai 49 ppb (blok Karakelang dan Kabaruan bersama). Itu kurang dari 0,05 gram per ton.
- Sebagai perbandingan: tambang emas menghitung dalam gram per ton; 1 gram per ton sama dengan 1.000 ppb.
- Sinabar, bijih merkuri, ada di 21 dari 43 konsentrat dulang (mineral berat dari pasir sungai). Survei membacanya sebagai tanda kemungkinan sistem air panas. Itu tafsiran, bukan endapan yang terbukti.
- Batuan di dekat sumur galian tangan lama di Salibabu dan Kabaruan menunjukkan 1 sampai 6 ppb emas. Sumber menyebut ini tidak ekonomis.
- Satu contoh batuan di blok Kabaruan mengandung 2.303 ppm tembaga dan 8.736 ppm seng. Satu contoh bukan zona.
Para peneliti mendapati hampir semua batuan masih segar, tanpa alterasi atau mineralisasi. Anomali tidak mengumpul. Karena itu mereka tidak dapat memastikan adanya zona anomali.
ESMI tidak menampilkan peta anomali dan lokasi contoh dari laporan itu.
Susunan wilayah
Sejarah pertambangan di Kepulauan Talaud
Lini masa bersumber, sejauh sumber menjangkau. Setiap titik menyebut sumbernya dan seberapa pasti. Jika hanya dilaporkan atau diceritakan turun-temurun, batasannya dicantumkan.
Sebelum 1500
- sekitar 33.000–6.000 SM
Hunian tertua: Leang Sarru
Leang Sarru, Salibabu
Di ceruk Leang Sarru, Pulau Salibabu, para arkeolog menemukan ribuan alat batu rijang dan sisa kerang. Pertanggalan menunjukkan manusia sudah datang sekitar 35.000 tahun lalu setelah menyeberangi laut lebih dari 100 km.
Batasan: Hunian kemungkinan tidak terus-menerus; ada jeda. Tidak ada logam.
Sumber: Rintaro Ono, Santoso Soegondho and Minoru Yoneda (2009) Changing marine exploitation during Late Pleistocene in northern Wallacea: shell remains from Leang Sarru rockshelter in Talaud Islands · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 4.000 SM–1700
Leang Tuwo Mane'e: dipakai ribuan tahun
Leang Tuwo Mane'e, Arangka'a, Karakelang
Ceruk dekat Arangka'a pertama kali dipakai sekitar 4000 SM; gerabah muncul sekitar 2500 SM. Bellwood mencatat lantainya kini 6,5–7 m di atas laut dan menyimpulkan pantai terangkat sekitar 7 m dalam 6.000 tahun.
Batasan: Pengangkatan pantai adalah tafsiran Bellwood dari satu situs.
Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 100 SM–500 M
Logam pertama di Talaud
Leang Tuwo Mane'e, Karakelang · tembaga
Lapisan Zaman Logam Awal memuat lonceng kecil, lempeng, dan cincin dari tembaga atau perunggu. Lonceng itu mirip temuan budaya Sa-Huynh di Vietnam; menurut Bellwood, logam sudah dipakai di Talaud sekitar 2.000 tahun lalu.
Batasan: Benda logam membuktikan perdagangan dan pemakaian, bukan penambangan bijih setempat.
Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 700 M–1200
Tembaga dicor di Salibabu
Salibabu dan Karakelang · tembaga
Di gua kubur Leang Buidane, 2 km barat laut Lirung, Bellwood menemukan 11 benda tembaga atau perunggu, kapak bertangkai dari tembaga, 4 cetakan tanah liat bakar, 3 potong besi, serta manik karnelian dan akik dari India. Satu cetakan bertanggal sekitar 960 tahun lalu. Gua kedua di Karakelang berisi temuan sejenis.
Batasan: Bellwood: benda tembaga jelas dicor setempat, tetapi logamnya mungkin besi tua impor. Tidak ada tambang tembaga atau timah setempat yang diketahui.
Sumber: Peter Bellwood (1976) Archaeological research in Minahasa and the Talaud Islands, northeastern Indonesia · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1000–1600
Besi dan kambing di Kabaruan
Leang Buida, pesisir barat Kabaruan · besi
Di gua hunian Leang Buida, peneliti menemukan 14 potong besi di lapisan atas, dua pecahan keramik dagang, dan banyak sisa ikan serta kerang. Gigi dan tulang kambing dari lapisan sekitar 1000 M menunjukkan kambing sudah ada di Talaud saat itu.
Batasan: Besi itu bukti pemakaian, bukan peleburan atau bijih besi setempat.
Sumber: Rintaro Ono, Sriwigati and Joko Siswanto (2018) Development of marine and terrestrial resource use in the Talaud Islands AD 1000-1800, northern Sulawesi region · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1200–1800
Keramik dagang Tiongkok dan kampung akhir
Leang Arandangana (Kabaruan); Bukit Tiwing (Salibabu)
Leang Arandangana di Kabaruan memiliki lapisan sekitar 1200 M dengan gerabah Rarangunusa dan dua pecahan keramik dagang Tiongkok. Bukit Tiwing di Salibabu dihuni sekitar 1500–1800 M. Ini menunjukkan jaringan dagang dengan Filipina selatan.
Batasan: Arandangana dikutip lewat Ono dkk. (2018) yang merujuk Tanudirjo (2001).
Sumber: Rintaro Ono, Sriwigati and Joko Siswanto (2018) Development of marine and terrestrial resource use in the Talaud Islands AD 1000-1800, northern Sulawesi region · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1365
Udamakatraya dan nama pulau lama
Kepulauan Talaud
Pemerintah kabupaten menulis bahwa Talaud pernah menjadi bagian Majapahit dengan nama Udamakatraya. Disebut pula nama lama: Maleon (Karakelang), Sinduane (Salibabu), Tamarongge (Kabaruan), Batunampato (Nanusa), dan Tinonda (Miangas).
Batasan: Tradisi; pengaitan Udamakatraya (Nagarakertagama, 1365) dengan Talaud belum terbukti.
Sumber: Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud Sejarah Kabupaten Kepulauan Talaud · diakses 24 Okt 2026
1500–1799: Portugis, Spanyol, dan VOC
- 1521
Pigafetta menyebut 'Talaut'
Kepulauan Talaud ('Talaut')
Dalam perjalanan ke Maluku, Antonio Pigafetta dari armada Magellan menyebut pulau 'Talaut' tepat sebelum 6 November 1521. Penyunting menganggapnya salah satu Kepulauan Talaud. Pulau itu tidak dideskripsikan.
Batasan: Emas yang disebut Pigafetta berada di Sarangani dan Mindanao, bukan Talaud.
Sumber: Antonio Pigafetta; ed. E.H. Blair & J.A. Robertson Primo viaggio intorno al mondo (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 33) · diakses 24 Okt 2026
- 1526
Loaísa melihat Miangas
Miangas (Palmas)
Menurut putusan Palmas, laporan ekspedisi Spanyol García Jofre de Loaísa menunjukkan pulau Palmas (Miangas) terlihat pada Oktober 1526. Di peta abad ke-16 pulau itu tertulis 'Ilha das Palmeiras'.
Batasan: Huber menilai sekadar melihat pulau tidak memberi kedaulatan.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1544
Villalobos dan 'pulau-pulau Talao'
Kepulauan Talaud ('islas de Talao')
Anggota ekspedisi Spanyol Ruy López de Villalobos pada 1544 menemukan surat yang mengarahkan mereka ke 'pulau-pulau Talao'. Penyunting menyatakan Ortelius (1570) menggambarnya di antara Mindanao dan Halmahera, yaitu Kepulauan Talaud.
Batasan: Laporan hanya menyebut pulau itu sebagai tujuan; tidak ada uraian tanah atau sumber daya.
Sumber: E.H. Blair & J.A. Robertson (eds), summarising Santistéban Expedition of Ruy Lopez de Villalobos (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 2) · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1550–1700
Talaud dalam pengaruh Ternate
Talaud ('Talaut or Tulour group')
Valentijn memasukkan 'kelompok Talaut atau Tulour' ke dalam pulau-pulau di bawah Kesultanan Ternate. Dalam praktik, raja-raja Sangihe (Tabukan, Siau, Taruna, Tagulandang) menguasai kampung-kampung Talaud.
Batasan: Daftar klaim Ternate, bukan bukti pemerintahan langsung.
Sumber: E.H. Blair & J.A. Robertson (eds) The Philippine Islands 1493-1898, vol. 17 (note citing Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Moluccos pp. 3-4) · diakses 24 Okt 2026
- 1606–1666
Fransiskan Spanyol di 'Miangis'?
Nanusa / Miangas ('Islas Miangis', NE dari Karakelang)
Surat Provinsi Fransiskan di Filipina menyatakan 'Islas Miangis' di timur laut Karakelang direbut Spanyol pada 1606. Kaum Fransiskan disebut melayani di sana sampai 1666.
Batasan: Huber menganggap pernyataan ini dugaan, bukan fakta lapangan. Kemungkinan yang dimaksud Kepulauan Nanusa.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1650–1663
Uraian Spanyol: tanah miskin, upeti berupa umbi
Kepulauan Talaud ('Talaos')
Daftar Yesuit tahun 1656 mencatat sekitar 11.000 jiwa 'Talaos' dengan pemimpin Kristen. Auditor Francisco de Montemayor y Mansilla menyebut empat pulau miskin dengan kelapa, sayur, sedikit padi, dan umbi untuk membayar upeti; mereka bawahan Tabukan dan Siau, dengan 800 keluarga terbaptis.
Batasan: Tidak disebut logam atau tambang; itu tidak membuktikan tidak ada mineral.
Sumber: Francisco Colin; ed. E.H. Blair & J.A. Robertson (1663) Jesuit missions in 1656, from Colin's Labor evangélica (in: The Philippine Islands 1493-1898, vol. 28) · diakses 24 Okt 2026
- 1670–1677
Misi Yesuit di Talaud selatan
Kaburuang/Kabaruan dan two southern Talaud kerajaan kecil
Dua kerajaan kecil di Talaud bergantung pada raja Siau; pengkristenan baru dimulai awal 1670-an. Pada 1675 rumah pastor ditambahkan pada gereja di Pulau Kaburuang. Misi berakhir 1677 ketika garnisun Spanyol di Siau menyerah.
Batasan: Benteng Spanyol Santa Rosa berada di Siau, bukan di Talaud.
Sumber: Karel Steenbrink (in Aritonang & Steenbrink, A History of Christianity in Indonesia) (2008) Catholic converts in the Moluccas, Minahasa and Sangihe-Talaud, 1512-1680 · diakses 24 Okt 2026
- 1670–1677
Yesuit di Lirung
Lirung (Salibabu) dan 'Talaut'
Valentijn menulis Yesuit Hieronymo de Crebueros setelah di Siau tinggal 'di pulau Talaut, atau Lirong'. Laporan gereja Protestan oleh Montanus (1675) menuduh Pater Emanuel Espanjola hendak memaksakan agama Katolik di Talaud dengan pedang.
Batasan: Tuduhan berasal dari pihak Protestan; Espanjola menyangkalnya.
Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026
- 1677
Kontrak VOC dengan raja-raja Sangihe
Kepulauan Talaud (wilayah taklukan dari Tabukan, Siau, Taruna)
Gubernur Robertus Padtbrugge membuat kontrak dengan raja Tabukan pada 3 November 1677; kontrak lain menyusul pada 1697, 1720, 1758, dan 1828. Raja menerima wilayahnya sebagai pinjaman (leen) dari VOC, tidak boleh menerima orang Spanyol, dan hanya boleh mengizinkan agama Reformasi. Dengan itu kampung-kampung Talaud milik raja-raja ini masuk lingkup VOC.
Batasan: Kontrak dibuat di Sangihe; Talaud tercakup secara tidak langsung lewat para raja.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1680–1724
Valentijn melukiskan 'pulau-pulau Talaut'
Karkelang (Karakelang), Kabroewang (Kabaruan), Lirong (Salibabu), Noessa (Nanusa)
Valentijn memuat peta dan uraian empat pulau Talaud: Noessa, Karkelang, Lirong, dan Kabroewang. Karkelang punya sepuluh kampung di bawah Tabukan dan Tagulandang, dengan pegunungan di tenggara. Kabroewang di bawah raja Siau, berpenduduk sekitar 1.000 jiwa dengan 300 prajurit, dan miskin: hanya kelapa, minyak, dan umbi, serta ikan hiu kering sebagai makanan.
Batasan: Valentijn tidak menyebut logam atau tambang di Talaud; datanya dari arsip VOC, bukan kunjungan sendiri.
Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026
- 1686–1697
Dampier: 'emas dan cengkeh' di Meangis
Miangas ('Meangis') · emas
William Dampier menulis bahwa pulau-pulau 'Meangis' kaya emas dan cengkeh. Ia mendengarnya dari seorang bangsawan bernama Jeoly, yang mengaku lahir di sana. Wichmann (1899) menunjukkan bahwa Meangis adalah Pulau Miangas.
Batasan: Cerita tangan kedua. Wichmann menyebut informasi Jeoly keliru; tidak ada laporan kemudian yang membenarkan emas di Miangas.
Sumber: A. Wichmann (1899) Die Insel Miangas · diakses 24 Okt 2026
- 1689–1695
Kunjungan Protestan dan kelaparan di Kabroewang
Towadebale dan Manenare (Kabaruan); Lirung; Karkelang; Noenoessa
Pendeta Gellius Cammiga hampir karam di Talaud dan di kampung Towadebale, Kabroewang, berhari-hari hanya makan daun karena tidak ada makanan. Penduduk Lirong minta menjadi Kristen bila raja Tabukan mengizinkan. Pada kunjungan berikutnya hanya tercatat 30 orang Kristen, 3 di Noenoessa, dan 10 di Karkelang.
Batasan: Tahun penghitungan berikutnya tidak terbaca di OCR (kemungkinan 1695); lokasi 30 orang Kristen kurang jelas.
Sumber: François Valentijn (1724) Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Beschryving der Moluccos) · diakses 24 Okt 2026
- 1700–1706
Kapal VOC di Miangas
Miangas ('Meangis', 'Mayages'); Nanusa; Kakorotan
Pada November–Desember 1700 kapal VOC De Bye, Larycque, dan De Peer melihat pulau yang penduduknya mengibarkan bendera VOC; Larycque mendarat 9–10 Desember. Penduduk menunjukkan surat tahun 1681 (kini hilang) dari raja Marcus Lalero dari Tabukan. Pada 1701 aturan Tabukan juga berlaku untuk 'Nanusa dan Meamgy', dan pada 1706 gubernur menyebut Miangas bersama Kakorotan.
Batasan: Huber menilai sangat mungkin, tetapi tidak pasti, bahwa pulau tahun 1700 itu Miangas.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1726–1857
Miangas beralih dari Tabukan ke Taruna
Miangas ('Melangis') dan Nanusa
Pada 1726 gubernur Ternate memutuskan status 80 orang 'Talaud' dari Miangas yang tiba di Taruna: rakyat Taruna atau Tabukan? Laporan 1825 masih memasukkan 'pulau jauh Melangis' ke Tabukan; pada Desember 1857 Kepulauan Nanusa dan Melangis termasuk Taruna.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1775
Thomas Forrest di pelabuhan Lirung
Lirung ('Leron') pelabuhan, Salibabu
Kapten Inggris Thomas Forrest masuk pelabuhan Leron (Lirung) di antara Kabaruan dan Salibabu dengan bendera Belanda lalu mengunjungi dua raja di Salibabu dan membeli kacang, ubi, beras, dan kambing dengan kain katun. Salibabu sedang berperang dengan Kabaruan; ia melihat kepala manusia yang baru dipenggal tergantung di pohon. Ia menyebut pulau-pulau itu terolah baik dan kaya penduduk serta bahan makanan.
Batasan: Kunjungan singkat; tidak ada catatan logam atau mineral.
Sumber: Thomas Forrest (1780) A Voyage to New Guinea and the Moluccas, from Balambangan, 1774-1776 · diakses 24 Okt 2026
1800–1941: masa kolonial
- 1825
Komisaris pemerintah Van Delden menyebut Melangies
Miangas ('Melangies'), NE dari the Nanusa pulau-pulau
A.J. van Delden pada 1825 diutus sebagai komisaris pemerintah ke Kepulauan Sangihe dan Talaud. Ia melaporkan pulau Melangies yang berpenduduk cukup banyak di dekat Kepulauan Nanusa, di bawah kerajaan Tabukan.
Batasan: Hanya diketahui lewat Wichmann (1899) yang mengutip 'De Talautsche Eilanden' (Indisch Magazijn 1844); naskah asli belum dilihat.
Sumber: A. Wichmann (1899) Die Insel Miangas · diakses 24 Okt 2026
- 1857
Laporan residen tentang Talaud
Kepulauan Talaud ('Talauer-eilanden'), Karakelang
Residen Manado menulis laporan panjang pada 12 Agustus 1857 tentang pemerintahan dan kampung (negeri) Kepulauan Talaud. Menurut laporan ini, raja-raja Tabukan sudah lama menaklukkan Kepulauan Talaud (Karakelang) sebelum Belanda datang.
Batasan: Diketahui lewat putusan Palmas; laporan asli belum diperiksa.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1859–1888
Awal pekabaran Injil Protestan
Salibabu, Karakelang, Kabaruan
Empat 'zendeling-pekerja' Jerman dari komite Otto Gerhard Heldring tiba di Lirung pada 1 Oktober 1859; tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Talaud. A.C. van Essen bekerja di Salibabu, W. Richter dan C.F.W. Tauffmann di Karakelang (Richter kemudian di Beo), dan P. Gunther di Kabaruan (Mangarang).
Batasan: Sumber sekunder (sejarawan lokal, berdasar Brilman 1938); berkas pribadi ada di Het Utrechts Archief.
Sumber: Adrianus Kojongian (Barta1) (2020) Sejarah Kekristenan di Kepulauan Talaud (Bagian 2) · diakses 24 Okt 2026
- 1885
Hickson ikut perjalanan residen
Salibabu, Karakelang, Nanusa
Naturalis Sydney Hickson ikut kapal pemerintah 'Ternate' pada November 1885. Di Lirung ia melihat toko Tionghoa yang menukar kain, besi, perkakas, dan gerabah dengan hasil bumi, dan ia bertemu seorang raja setempat di Karakelang. Di Karaton (Nanusa) ia menemukan terumbu karang tua 8–9 kaki di atas batas tumbuh karang dan menyimpulkan Kepulauan Talaud perlahan terangkat.
Batasan: Tahun disimpulkan dari nama hari dalam teks (November 1885).
Sumber: Sydney J. Hickson (1889) A Naturalist in North Celebes: a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands · diakses 24 Okt 2026
- 1885
Beo: wabah dan 'zaman kayu'
Beo, Karakelang · besi
Di Beo Hickson mendengar bahwa dari hampir 9.000 orang di sekitarnya, 3.000 meninggal dalam beberapa bulan; raja juga wafat. Ia mengunjungi zendeling tua Richter. Hickson menulis orang Talaud hidup di 'zaman kayu': tombak dan perisai dari kayu, karena 'tidak ada besi dan tidak ada tembaga'.
Batasan: Ini tentang budaya benda, bukan geologi; arkeologi justru menunjukkan pemakaian logam kuno. Sejarawan lokal menyebut Richter wafat 25 Mei 1885, bertentangan dengan Hickson.
Sumber: Sydney J. Hickson (1889) A Naturalist in North Celebes: a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands · diakses 24 Okt 2026
- 1885–1889
Kontrak Taruna dan pajak kepala
Nanusa pulau-pulau dan Miangas
Kontrak 1885 dengan Taruna juga mencakup Kepulauan Nanusa. Upeti lama berupa tikar, beras, dan barang lain diganti pajak kepala 1 gulden untuk tiap laki-laki di atas 18 tahun. Tabel 15 September 1889 mencatat 88 wajib pajak untuk 'Menagasa' (Miangas) di wilayah jogugu Nanusa.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- sekitar 1888–1900
Kisah kursi emas yang terkubur
Damau, Kabaruan · emas
Menurut kisah yang didengar Yesuit A.J. van Aernsbergen di Kabaruan pada 1920-an, dekat Damau pernah ada biara Spanyol yang menyimpan harta karun. Posthouder J.E. Leidelmeijer konon pernah menggali di sana, tetapi tidak menemukan kursi emas atau gading.
Batasan: Tradisi lewat sejarawan lokal; tidak ada bukti biara, harta, atau penambangan emas.
Sumber: Adrianus Kojongian (2018) Jelajah Sejarah Manado: Kepulauan Talaud Tempo Dulu (3) · diakses 24 Okt 2026
- 1895–1896
Kunjungan pejabat pertama dan lambang negara
Miangas; Karaton (Karatung, Nanusa)
Pada November 1895 residen Manado mengunjungi Miangas; menurut penduduk belum pernah ada kapal atau orang Eropa datang. Pada 2 November 1896 kepala Karaton menerima lambang Belanda, dan pada 4 November 1896 kapitan laut Miangas.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1896
Posthouder di Lirung
Lirung, Salibabu
Dengan kuasa kerajaan, pemerintahan Kepulauan Talaud mendapat seorang posthouder berkedudukan di Liroeng (Salibaboe), bergaji 200 gulden sebulan. J.E. Leidelmeijer sudah menjadi posthouder sementara di Talaud sejak 1888.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1896) Nederlandsch-Indië, Batavia 1 April 1896 · diakses 24 Okt 2026
- 1898
Sewa tanah di Kabaruan untuk mencari emas
Kaboeroean (Kabaruan) · emas
Komandan kapal Edi membuat kontrak dengan kerajaan Siau untuk sewa (erfpacht) 75 tahun atas sebagian Pulau Kaboeroean, 15 sen per bau per tahun. Ia ingin mendapatkan emas karena menduga ada emas dari 'batu-batu mengandung emas'. Sumatra-Courant mengulang berita ini pada 17 November 1898.
Batasan: Tidak ada analisis, lokasi, kegiatan tambang, atau produksi yang diketahui; koran kedua mengulang berita yang sama.
Sumber: De Locomotief (correspondent) (1898) Van Menado · diakses 24 Okt 2026
- 1898
Orang Talaud di tambang emas Totok
Kepulauan Talaud (asal para buruh) · emas
Koloniaal Verslag 1899 mencatat bahwa perusahaan tambang Totok, pemegang konsesi emas di Minahasa, punya sekitar 225 pekerja, sebagian dari Kepulauan Talaud. Orang Talaud belum terbiasa kerja tambang. Di satu perusahaan eksplorasi, kuli dari Jawa dan Talaud melarikan diri.
Batasan: Tambangnya di Minahasa, bukan di Talaud. Tidak menyatakan apa pun tentang bijih di Talaud.
Sumber: Minister van Koloniën (1899) Koloniaal verslag van 1899, Bijlage C · diakses 24 Okt 2026
- 1898
Kapal perang Edi berpatroli
Kepulauan Talaud; Miangas
Selama Perang Spanyol–Amerika, kapal Hr.Ms. Edi pada 13 Mei 1898 diperintahkan mengawasi Kepulauan Sangi dan Talaud serta menjaga netralitas. Kapal itu mengunjungi Miangas pada Juni dan September 1898 dan melaporkan penduduk membayar pajak dan lambang Belanda masih terpasang.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1898–1899
Orang Talaud dicari sebagai buruh tambang
Kepulauan Talaud (asal para buruh)
Aturan Juli 1898 mengizinkan penduduk Kepulauan Sangi dan Talaud direkrut sebagai buruh kontrak untuk pertanian atau pertambangan di Keresidenan Menado. Pada 1899 sebuah perusahaan tambang emas di Kwandang–Sumalata menulis bahwa mereka berusaha mendatangkan kuli dari Kepulauan Sangi dan Talaud.
Batasan: Tambangnya di daratan (Gorontalo), bukan di Talaud; jumlah buruh asal Talaud tidak diketahui.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1898) Nederlandsch-Indië, Batavia 13 Juli 1898 · diakses 24 Okt 2026
- 1899
Ekspedisi Siboga: 'demam konsesi' sampai ke Kabaruan
Lirung (Salibabu); Kaboeroean (Kabaruan)
Kapal Siboga berlabuh di Beo dan Lirung pada 23-27 Juli 1899. Pada 27 Juli puncak tertinggi Salibabu didaki untuk penelitian geologi. Surat kabar menulis bahwa demam permohonan konsesi 'sudah' sampai ke Kaboeroean.
Batasan: Tidak menyebut nama, mineral, atau lahan. Hasil geologi Salibabu tidak ditemukan dalam Weber (1902).
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1899) De Siboga-expeditie. Molukken, Augustus · diakses 24 Okt 2026
- 1899–1902
Kontrak baru: hak pertambangan ke Gubernemen
Kepulauan Talaud (melalui raja-raja Sangihe)
Pada November 1899 lima kerajaan Sangihe mendapat kontrak politik baru. Hak memberi izin penyelidikan dan konsesi tambang beralih dari raja ke Gubernemen. Talaud saat itu hanya terdiri atas wilayah bawahan kerajaan-kerajaan ini; misalnya dua desa di Karakelang milik Tagoelandang.
Batasan: Ini aturan hukum, bukan temuan. Bahwa sewa 1898 di Kaboeroean gugur karenanya adalah dugaan.
Sumber: Tweede Kamer (1902) Overeenkomsten met Inlandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel (Nota van Toelichting) · diakses 24 Okt 2026
- 1902
Permohonan tambang di Karakelang ditolak
Karakelang
Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan permohonan S.W.B. Hijde dan G. de Kruijff van Dorssen untuk penyelidikan tambang di Pulau Karakelang ditolak. Ini permohonan tambang pertama yang ditemukan dengan menyebut Karakelang.
Batasan: Berita tidak menyebut jenis mineral atau alasan penolakan.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1902) Nederlandsch-Indië, Batavia 16 Augustus 1902 (Mijnbouw) · diakses 24 Okt 2026
- 1902
Wilayah Sangi dibuka untuk pertambangan
Kabaruan, Nanusa dan Miangas (melalui raja-raja Sangihe)
Javasche Courant 4 April 1902 mengumumkan pemerintah tidak keberatan atas penyelidikan tambang swasta di Siauw, Kandhar-Taroena, Nanganitoe, Taboekan, dan Tagoelandang (Kepulauan Sangi dan Talaud). Kerajaan-kerajaan ini punya wilayah di Talaud: Siau di Kabaruan, Kandhar-Taruna di Nanusa dan Miangas.
Batasan: Berita tidak menyebut pulau Talaud; jangan dipakai sebagai bukti Talaud dibuka atau ditambang.
Sumber: Het Vaderland (citing Javasche Courant 4-4-1902) (1902) Mijnbouw · diakses 24 Okt 2026
- 1903
Izin penyelidikan untuk tiga lahan di Karakelang
Karakelang (afdeeling Sangi- en Talauer-eilanden)
Permohonan J. Bosman untuk penyelidikan tambang di tiga lahan di Pulau Karakelang dikabulkan. Ini izin penyelidikan pertama yang ditemukan diberikan di Talaud.
Batasan: Jenis mineral, lokasi, dan hasil tidak diketahui; lihat Jaarboek van het Mijnwezen dan Javasche Courant 1903.
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1903) Nederlandsch-Indië, Batavia 31 Maart 1903 · diakses 24 Okt 2026
- 1904–1936
Gelombang pasang dan gempa
Kepulauan Talaud
Pada Oktober 1904 telegram melaporkan gelombang pasang merusak berat Kepulauan Talaud; sebuah kapal uap dikirim. Gempa 1 April 1936 merobohkan 127 rumah di Talaud dan melukai tujuh orang.
Batasan: Berita singkat; lokasi di pulau tidak disebut.
Sumber: Arnhemsche Courant (1904) Koloniën (Batavia, 25 October) · diakses 24 Okt 2026
- 1906
Jenderal Wood di Miangas
Miangas (Palmas)
Jenderal Leonard Wood, gubernur Provinsi Moro, mengunjungi Miangas pada 21 Januari 1906 dan heran melihat bendera Belanda di pantai. Kunjungan ini memicu sengketa antara Amerika Serikat dan Belanda.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1912
Raja-raja Sangihe menyerahkan Talaud
Mengarang, Kaboeroean dan Todoeale (Kabaruan); djogoegoeschappen on the Talaud dan Nanusa pulau-pulau
Pada 1912 para penguasa swapraja di Sangihe melepaskan hak mereka atas wilayah jogugu di Kepulauan Talaud dan Nanusa. Siau menyatakan di Ulu pada 6 Mei 1912 bahwa Mengarang, Kaboeroean, dan Todoeale diserahkan kepada Gubernemen.
Batasan: Sebuah koran tahun 1933 masih menyebut Kaboeroean wilayah jogugu Siau; tampaknya usang, tetapi belum diperiksa.
Sumber: Tweede Kamer (1914) Overeenkomsten met inlandsche zelfbestuurders in Nederlandsch-Indië · diakses 24 Okt 2026
- 1912
'Tidak ada mineral penting yang diketahui'
Kepulauan Talaud
Sebuah artikel tinjauan menulis geologi Kepulauan Sangi dan Talaud masih sedikit diketahui; selain belerang dan sejenis tanah liat pipa (dipakai sebagai kapur putih) tidak ada mineral penting yang diketahui. Talaud berpenduduk 18.992 jiwa; beberapa orang Eropa punya izin menjual kayu di Talaud.
Batasan: Pernyataan mineral berlaku untuk kedua gugus; belerang berasal dari gunung api di Sangihe.
Sumber: Tijdschrift voor economische geographie (anonymous) (1912) De Sangi- en Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026
- 1913
Wabah demam di Talaud
Karakelang, Kaboeroean, Salibaboe
Di onderafdeling Kepulauan Talaud kasus demam turun dari 2.472 menjadi sekitar 1.200 dalam sebulan, dan kematian dari 166 menjadi 39. Kasus terbanyak di Salibaboe; di Karakelang dan Kaboeroean penyakit mereda, mungkin karena kina dan hujan.
Batasan: Berita ini juga menegaskan Kaboeroean adalah Kabaruan sekarang (bagian Talaud).
Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad (1913) Nederlandsch-Indië, Batavia 18 Augustus · diakses 24 Okt 2026
- 1914–1920
BPM minta izin penyelidikan di Karakelang
Karakelang
Residen Manado mengumumkan pada 20 Desember 1920 bahwa Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) pada 17 Januari 1914 memohon izin penyelidikan tambang di Karakelang. Sebuah koran memakainya sebagai contoh birokrasi yang lamban.
Batasan: BPM perusahaan minyak, tetapi berita tidak menyebut jenis mineral; hasil permohonan tidak diketahui.
Sumber: Deli Courant (1921) Grapjes en snapjes · diakses 24 Okt 2026
- 1921–1928
Roothaan: peta geologi pertama Talaud
Talaud dan Nanusa pulau-pulau
Ahli geologi BPM H.Ph. Roothaan melakukan survei lapangan pada 1921 dan menerbitkan 'Geologische en petrografische schets der Talaud- en Nanoesa-eilanden' dengan peta 1:200.000 di Jaarboek van het Mijnwezen. Ia menggambarkan inti terutama gabro dan peridotit, ditutupi lapisan tipis rijang radiolaria, breksi, batupasir, dan napal.
Batasan: Isi diketahui dari ringkasan Van Gorsel; naskah asli (Verhandelingen II, hlm. 174-220) belum diperiksa.
Sumber: J.T. van Gorsel Bibliography of the Geology of Indonesia and Surrounding Areas, VI. North Moluccas (entry Roothaan 1928) · diakses 24 Okt 2026
- 1925–1939
Batuan Talaud digolongkan secara kimia
Kepulauan Talaud
Tinjauan dalam Geologie & Mijnbouw (1939) menyebut Roothaan meneliti batuan Talaud. Menurutnya batuan itu termasuk deret 'pasifik' dengan sedikit pengaruh 'mediteran'.
Batasan: Penggolongan petrologi, bukan temuan bijih. Naskah Roothaan sendiri belum dilihat.
Sumber: Geologisch-Mijnbouwkundig Genootschap (1939) Geologie & Mijnbouw 1 (1939) nr. 3 · diakses 24 Okt 2026
- 1926
Lam: gunung serpentin dan tanah miskin
Karakelang, Salibabu, Nanusa
Ahli botani H.J. Lam meneliti flora Karakelang, Salibabu, dan Kepulauan Nanusa. Ia menulis sebuah gunung di Karakelang terdiri dari serpentin sehingga floranya sangat berbeda; di tempat lain batuan dalam hanya muncul di dasar sungai. Tanahnya miskin: kopra hampir satu-satunya ekspor, belalang merusak banyak tanaman, dan Talaud berpenduduk sekitar 20.000 jiwa.
Batasan: Laporan botani; tidak meneliti bijih.
Sumber: H.J. Lam (in Bataviaasch Nieuwsblad) (1926) Vegetatie der Talaud-eilanden · diakses 24 Okt 2026
- 1927
Talaud sebagai swapraja dan onderafdeling sendiri
Beo dan Lirung; onderafdeeling Talaud-eilanden
Regeeringsalmanak 1927 mencatat onderafdeling Talaud-eilanden dengan seorang kepala swapraja setempat. Ada pengadilan pribumi di Beo untuk swapraja Talaud. Zending punya pos di Lirung (Salibabu) dan di Karakelang.
Batasan: Daftar administrasi; tanpa pertambangan. OCR almanak kurang rapi.
Sumber: Landsdrukkerij (1927) Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië 1927 · diakses 24 Okt 2026
- 1928
Putusan Palmas: Miangas milik Belanda
Miangas (Palmas)
Arbiter Max Huber dari Mahkamah Arbitrase Permanen memutuskan pada 4 April 1928 bahwa Pulau Palmas (Miangas) sepenuhnya wilayah Belanda. Yang menentukan adalah kekuasaan damai dan berkelanjutan lewat raja-raja Sangihe, bukan penemuan oleh Spanyol.
Sumber: Max Huber (sole arbitrator, Permanent Court of Arbitration) (1928) Island of Palmas case (Netherlands/U.S.A.), award of 4 April 1928 · diakses 24 Okt 2026
- 1929–1938
Ekspedisi Snellius: karang muda terangkat
dekat Mahammale, Talaud
Ahli geologi Ph.H. Kuenen dari Ekspedisi Snellius mengumpulkan karang dari napal laut yang terangkat dekat Mahammale. Umbgrove (1938) menemukan 15 spesies yang semuanya masih hidup; jadi lapisan itu muda (Pleistosen hingga Holosen).
Batasan: Pulau tempat Mahammale tidak disebut dalam ringkasan.
Sumber: J.H.F. Umbgrove (1938) Corals from an elevated marl of Talaud (East Indies) · diakses 24 Okt 2026
1942–1998: perang, kemerdekaan, dan Orde Baru
- 1942–1945
Pendudukan Jepang
Kepulauan Talaud; Beo teluk (Karakelang)
Jepang menduduki Kepulauan Talaud sejak awal 1942 sampai menyerah pada 1945. Seorang wartawan Belanda menulis pada 1954 bahwa Jepang menempatkan garnisun sekitar 3.000 orang di Talaud dan memakai teluk Beo sebagai pangkalan armada. Sebuah koran tahun 1946 melaporkan bahwa selama pendudukan Jepang memenggal raja-raja Kepulauan Sangi dan Talaud.
Batasan: Berita pers tanpa bukti arsip; jumlah pasukan dan eksekusi perlu dicek di arsip Jepang dan NEFIS.
Sumber: De Nieuwsgier (1954) Beo · diakses 24 Okt 2026
- 1944
Rencana pendaratan Amerika di Talaud dibatalkan
Kepulauan Talaud
Jenderal MacArthur pada 23 Juli 1944 merencanakan pendaratan di Kepulauan Talaud pada 15 Oktober 1944 untuk membangun lapangan terbang di antara Morotai dan Mindanao. Pada 15 September 1944 operasi itu dibatalkan; serangan ke Leyte dimajukan ke 20 Oktober dan Talaud hanya diserang dari udara dan laut.
Sumber: W.F. Craven & J.L. Cate (eds) (1953) The Army Air Forces in World War II, vol. V, chapter 10 · diakses 24 Okt 2026
- 1944
Pengeboman Beo
Beo, Karakelang
Pada 20 Agustus 1944 pesawat B-25 Amerika menyerang wilayah Beo untuk melindungi pemotretan udara; hanya dua pesawat tempur Jepang muncul. Kemudian pada 1944 kelompok kapal induk menyerang Kepulauan Talaud. Menurut wartawan tahun 1954, hampir tidak ada rumah tersisa di Beo, hanya gereja yang sebagian selamat.
Batasan: Kehancuran Beo bersumber dari artikel koran tahun 1954.
Sumber: W.F. Craven & J.L. Cate (eds) (1953) The Army Air Forces in World War II, vol. V, chapter 10 · diakses 24 Okt 2026
- 1945–1947
Pilot Australia dieksekusi
dekat Karakelang dan Maroh; Beo
Tiga pilot Skuadron 80 RAAF mendarat darurat di laut dekat Karakelang dan Maroh pada 13 Januari 1945, ditawan, dan dibunuh pasukan Jepang pada Maret 1945. Tim pencari RAAF menemukan jasad mereka di Beo pada 21 Februari 1947; mereka dimakamkan di makam perang Ambon.
Batasan: Situs sekunder; perlu dicek di arsip Australia (NAA, AWM).
Sumber: Pacific Wrecks Talaud Island Group (Talaud Islands), North Sulawesi Province, Indonesia · diakses 24 Okt 2026
- 1954
Presiden Soekarno di Beo
Beo, Karakelang
Presiden Soekarno mengunjungi Talaud, 'pulau paling utara Indonesia'; ibu kota Beo dengan sekitar seribu penduduk dihias dan paduan suara bernyanyi. Wartawan lain menulis Beo sebelum perang adalah kedudukan controleur dan setelah pengeboman dibangun kembali dengan rumah kayu dan bambu.
Sumber: Algemeen Indisch Dagblad: de Preangerbode (P.I.-Aneta) (1954) President op eiland Talaud · diakses 24 Okt 2026
- 1958
Permesta: pasukan pemerintah menduduki Talaud
Kepulauan Talaud
Saat pemberontakan Permesta, tentara Indonesia melaporkan pasukan pemerintah menduduki gugus Sangi dan Talaud pada 21 Mei 1958 tanpa perlawanan. Akibatnya pemberontak kehilangan jalur ke Filipina dan sumber pendapatan kaya: kopra.
Batasan: Komunike tentara lewat kantor berita; tanpa rincian per pulau.
Sumber: Winschoter Courant (1958) Opstandelingenleiders gearresteerd op Celebes en Borneo · diakses 24 Okt 2026
- 1959
Daerah Tingkat II Sangihe dan Talaud
Kepulauan Talaud (diperintah dari Sangihe)
UU No. 29 Tahun 1959 membentuk Daerah Tingkat II Kepulauan Sangihe dan Talaud dengan pusat pemerintahan di Tahuna, Sangihe. Talaud tetap menyatu secara administratif dengan Sangihe sampai 2002.
Sumber: Republik Indonesia (1959) UU No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi · diakses 24 Okt 2026
- 1976–1995
Pemetaan geologi modern
Karakelang, Salibabu, Kabaruan, Nanusa
Ahli geologi Indonesia dan Amerika (Sukamto, Suwarna, Moore, dan lain-lain) menggambarkan Talaud sebagai busur luar non-vulkanik dengan melange dan ofiolit (serpentinit, gabro, basal, rijang). Blok Talaud terangkat lebih dari 2.000 m sejak Pliosen. Peta Geologi Lembar Talaud 1:250.000 terbit 1986 dan 1995.
Batasan: Konteks geologi, bukan temuan bijih.
Sumber: G.F. Moore, D. Kadarisman, C.A. Evans & J.W. Hawkins (1981) Geology of the Talaud Islands, Molucca Sea collision zone, northeast Indonesia · diakses 24 Okt 2026
- 1997–2013
Kontrak Karya emas di Karakelang utara
Karakelang (bagian utara) · emas
Tabel kabupaten tahun 2012 mencantumkan Kontrak Karya emas PT Tambang Mas Sangihe seluas 40.080 ha di 'Karakelang bagian utara', tahap eksplorasi, 1997–2013. Kontrak 1997 berlaku untuk Kabupaten Sangihe Talaud saat itu; wilayah sekarang hanya di Sangihe.
Batasan: Sumber sekunder (laporan mahasiswa); batas dan data eksplorasi belum dilihat.
Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi dan persebaran mineral non logam dan logam Kabupaten Talaud (table Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Kab. Kepulauan Talaud 2012) · diakses 24 Okt 2026
Sejak 1999: desentralisasi hingga kini
- 2002
Kabupaten Kepulauan Talaud berdiri
Kabupaten Kepulauan Talaud (Melonguane)
UU No. 8 Tahun 2002 (10 April 2002) memisahkan Talaud dari Sangihe menjadi Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan tujuh kecamatan. Kabupaten diresmikan 2 Juli 2002; ibu kotanya Melonguane.
Sumber: Republik Indonesia (2002) UU No. 8 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara · diakses 24 Okt 2026
- 2008–2016
Penelitian ilmiah pasir besi
West Karakelang · pasir besi
Penelitian LIPI dan Puslitbang Geologi Kelautan menemukan magnetit, rutil, zirkon, dan olivin di pasir pantai, serta endapan pantai kaya magnetit di pesisir barat Karakelang. Sungai menyumbang sebagian; pengangkatan memindahkan pasir ke beting dangkal.
Batasan: Di satu pantai sumbangan sungai sangat kecil; tidak ada sumber daya ekonomis yang ditetapkan.
Sumber: M.A. Mustafa, D. Setiady & U. Kamiludin (2016) Keterdapatan pasirbesi di Pantai Beo dan sekitarnya · diakses 24 Okt 2026
- 2010–2011
Izin pasir besi dan mangan
Melonguane wilayah dan Karakelang · pasir besi
Tabel kabupaten yang sama mencantumkan sekitar 2010 IUP pasir besi 1.792 ha dekat Melonguane dan blok mangan 3.750 ha di Karakelang. Pada November 2011 ANTARA, mengutip pejabat provinsi, memberitakan 'potensi' sekitar 715.250 ton pasir besi di Talaud.
Batasan: Tanpa koordinat, kadar, atau klasifikasi sumber daya; tidak diketahui apakah pernah ditambang.
Sumber: Y. Sahabat (2017) Potensi bahan galian pasir besi Kab. Talaud · diakses 24 Okt 2026
- 2012
Inventarisasi mineral pemerintah (PSDG)
Karakelang, Kabaruan, Salibabu · emas
Pusat Sumber Daya Geologi menemukan emas 25–49 ppb dalam 44 sedimen sungai, sinabar di 21 dari 43 konsentrat dulang, dan bongkah mangan 27,60–61,64 % Mn di Karakelang. Batuan di bekas lubang emas rakyat di Salibabu dan Kabaruan hanya 1–6 ppb emas, yang disebut PSDG 'tidak ekonomis'.
Batasan: Sumber tidak konsisten soal pulau lubang tua (Salibabu atau Kabaruan); anomali tidak membentuk zona menyatu.
Sumber: R.M. Faisal & I. Muksin (2012) Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara · diakses 24 Okt 2026
- 2016
Mane'e dan larangan laut e'ha
Kakorotan, Intata dan Malo (Nanusa)
Di Kakorotan dan Intata masyarakat sekali setahun menangkap ikan bersama dengan tali panjang dari janur (mane'e). Sebelumnya berlaku masa e'ha, larangan memanen di laut dan darat; penelitian 2016 menyebut satu tahun.
Batasan: Tradisi hidup; usianya tidak terdokumentasi. Sumber populer mengaitkan asal-usulnya dengan tsunami 1628 (belum terkonfirmasi).
Sumber: Merlin Laira (2016) Upacara Mane'e pada Masyarakat Kakorotan Kecamatan Nanusa Kabupaten Kepulauan Talaud · diakses 24 Okt 2026
- 2024
Satu-satunya wilayah tambang: kuari 1,5 ha
Beo Selatan kecamatan, Karakelang
Register ESDM mencatat WIUP 1,5 ha untuk 'batu gunung quarry besar' di kecamatan Beo Selatan, berstatus 'pencadangan' sejak 19 Agustus 2024. Menurut tinjauan ESMI 2026, ini satu-satunya wilayah tambang di Talaud; tidak ada WPR emas dan izin logam.
Batasan: Pencadangan, bukan bukti kegiatan tambang aktif.
Sumber: ESMI Mining Intelligence (2026) Talaud integrated mineral and environment intelligence, §12.2 (ESDM WIUP record) · diakses 24 Okt 2026
Ukur dulu: cara kerja ESMI di sini
ESMI bekerja sama dengan pemerintah Talaud dalam program pengukuran. Prinsipnya: ukur dulu, baru memutuskan. Halaman ini tidak memuat lokasi atau koordinat penelitian.
- Catat kondisi dasar duluSebelum ada yang terganggu, kami mengukur air, tanah, hutan, dan hewan. Dengan begitu nanti diketahui apa yang berubah.
- XRF lapangan hanya pandangan pertamaAlat genggam (XRF) menunjukkan kira-kira unsur apa yang ada. Untuk emas alat ini kurang peka dan tidak membuktikan apa pun.
- Konfirmasi di laboratorium terakreditasiHasil baru kami sebut andal jika laboratorium terakreditasi dengan kendali mutu (QA/QC) mendapat hasil yang sama.
- Hindari alam lindung dan sarangKami tidak masuk kawasan lindung dan tidak mengganggu sarang, tempat tidur, dan habitat kritis.
- Bersama pemerintahIzin dari pemerintah dan masyarakat didahulukan sebelum setiap langkah di lapangan.
- Pemulihan adalah bagian dari rencanaJika tanah tetap terganggu, kami segera memulihkan: POCO (pemulihan dengan tanaman dan mikroba) di setiap bagian yang terganggu, penanaman kembali, dan pemulihan spesies.
Sinyal bukan bukti. Hasil ukur ESMI bukan temuan, bukan cadangan, dan bukan nilai.
Belum diteliti
7 pulau kecil, yaitu Kepulauan Nanusa, belum diteliti.
- Marampit 15 km²
- Karatung 7,6 km²
- Mangupun 2,1 km²
- Mallo 1,6 km²
- Garat 1,4 km²
- Kakorotan 0,6 km²
- Intata 0,3 km²
Untuk pulau-pulau ini kami tidak punya data. Itu tidak berarti bersih, aman, atau miskin mineral. Artinya hanya: tidak diketahui. Tanpa penelitian kami tidak menyatakan peluang atau risiko.
Sumber dan metode
Setiap angka di halaman ini punya sumber dan tanggal. Di bawah ini semua sumber beserta lisensinya.
| Apa | Sumber | Tanggal | Lisensi |
|---|---|---|---|
| Izin | ESDM MODI / Geoportal ESDM | 21 Okt 2026 | Data pemerintah terbuka |
| Area tambang | Cheng et al. 2026 + Maus et al. 2022 | 2018–2021 | CC BY 4.0 |
| Hilangnya hutan dan tutupan hutan | Hansen/UMD Global Forest Change (v1.13) | 22 Okt 2026 | CC BY 4.0 |
| Nitrogen dioksida | Copernicus Sentinel-5P TROPOMI NO2 | 20 Okt 2026 | Copernicus, penggunaan bebas |
| Batas wilayah | BPS / OCHA COD-AB 2020 | 2020 | CC BY 3.0 IGO |
| Spesies | Pengamatan hewan GBIF dengan Daftar Merah IUCN melalui GBIF (17 Juli 2026); Riley (2002, 2003); Repi dkk. (2020) | 17 Jul 2026 | CC0 / CC BY |
| Survei geologi | Faisal & Muksin (2012), Inventarisasi Mineral di Kabupaten Kepulauan Talaud, Prosiding PSDG 2012, Badan Geologi (ESDM) | 2012 | Publikasi pemerintah |
| Sejarah | Setiap peristiwa dalam lini masa menyebut sumbernya sendiri, dengan tautan dan tanggal kami mengaksesnya. | ||
Cara kami membaca dan memakai angka
- Sinyal bukan bukti: citra satelit, pengukuran, atau berita menunjuk arah, bukan membuktikan.
- Area tambang terpetakan bukan ilegalitas. Ini tidak menyatakan ada atau tidaknya izin.
- Hilangnya hutan adalah kehilangan tajuk pohon kotor dari semua penyebab, bukan perubahan hutan bersih.
- Yang tidak kami miliki, kami sebut "belum dimuat". Kami tidak menampilkan nol.
- Batas disederhanakan dan bukan hasil survei. Angka diperbarui saat sumber diperbarui.